Membongkar dan Membangun Iman
Kadang kita terbiasa dengan sesuatu…
hingga kita tidak lagi bertanya,
“Apakah ini benar di hadapan Tuhan?”
Bangsa Israel juga demikian.
Mereka hidup di tengah penyembahan berhala,
bahkan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Lalu Tuhan memanggil Gideon.
Perintah-Nya tidak mudah:
hancurkan mezbah Baal
dan bangun mezbah bagi Tuhan.
Ini bukan hanya soal merobohkan bangunan,
tetapi tentang perubahan hati.
Gideon harus berani melawan kebiasaan lama,
bahkan yang ada dalam keluarganya sendiri.
Ia takut… tetapi tetap taat.
Dan ketika orang-orang marah,
Tuhan justru menunjukkan bahwa berhala itu tidak berkuasa apa-apa.
Dari sini kita belajar:
iman yang benar kadang dimulai dari “membongkar”.
Membongkar kebiasaan lama…
membongkar cara pikir yang salah…
membongkar hal-hal yang diam-diam menggantikan Tuhan dalam hidup kita.
Lalu setelah itu, kita membangun kembali—
hubungan yang benar dengan Tuhan.
Hari ini, mari kita jujur melihat diri kita:
Apakah ada “mezbah lain” dalam hidup kita?
Hal yang lebih kita utamakan daripada Tuhan?
Rutinitas rohani yang kita lakukan tanpa hati?
Tuhan rindu kita tidak hanya menjalani iman sebagai kebiasaan,
tetapi sebagai hubungan yang hidup dengan-Nya.
Mungkin prosesnya tidak mudah.
Mungkin ada rasa takut.
Namun ketika kita berani taat,
Tuhan sendiri yang akan menyatakan kuasa-Nya.
Doa
Tuhan,
aku rindu memiliki iman yang sungguh-sungguh hidup.
Tolong aku untuk berani membongkar hal-hal dalam hidupku
yang tidak berkenan kepada-Mu.
Perbarui hatiku, Tuhan,
dan bangun kembali imanku agar semakin mengenal-Mu.
Beri aku keberanian untuk taat,
meskipun itu tidak mudah.
Amin.















