Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Belajar dari Masa Lalu Bersama Tuhan"

Seseorang melihat ke masa lalu sebagai simbol refleksi dan belajar dari perjalanan iman

Belajar dari Masa Lalu Bersama Tuhan

Hakim-hakim 6:1–24

Ada saat-saat dalam hidup
di mana kita bertanya,
“Tuhan, mengapa ini terjadi?”

Kita melihat ke belakang…
mengingat masa lalu…
dan mencoba memahami apa yang sedang kita alami sekarang.

Itulah yang dilakukan Gideon.

Bangsa Israel sedang menderita.
Hasil panen dirusak, ternak dirampas, hidup mereka penuh ketakutan.

Di tengah situasi itu, Tuhan memanggil Gideon.

Namun Gideon tidak langsung percaya.
Ia justru bertanya,
“Jika Tuhan menyertai kami, mengapa semua ini terjadi?”

Bukankah ini juga pertanyaan kita?

Saat hidup terasa berat…
saat doa belum terjawab…
kita mulai meragukan penyertaan Tuhan.

Namun Tuhan tidak marah kepada Gideon.
Ia menjawab dengan lembut,
dan memberi satu hal yang pasti:
penyertaan-Nya.

Gideon juga merasa tidak mampu.
Ia merasa kecil, tidak layak, dan tidak cukup kuat.

Namun Tuhan tidak melihat seperti manusia melihat.
Tuhan melihat hati yang mau dipakai.

Melalui proses itu, Gideon belajar satu hal penting:
Tuhan tidak berubah.
Dia tetap setia, bahkan ketika keadaan tidak mudah.

Hari ini, kita diajak untuk melakukan “retrospeksi iman”.
Melihat kembali perjalanan hidup kita bersama Tuhan.

Di mana Tuhan pernah menolong kita?
Di mana kita pernah meragukan-Nya?
Dan bagaimana Tuhan tetap setia?

Dari sana, kita belajar untuk percaya lagi.

Karena iman yang hidup
bukan berarti tidak pernah bertanya,
tetapi tetap percaya di tengah pertanyaan.

Doa

Tuhan,
aku datang dengan segala pertanyaan dalam hatiku.

Sering kali aku tidak mengerti jalan-Mu dalam hidupku.
Namun tolong aku untuk tetap percaya kepada-Mu.

Ajarku untuk belajar dari masa lalu,
melihat kesetiaan-Mu,
dan berpegang pada janji penyertaan-Mu.

Kuatkan imanku, Tuhan,
agar aku tetap berjalan bersama-Mu.

Amin.

Share:

Renungan Harian "Rekam Jejak Iman Kita"

Jejak kaki sebagai simbol perjalanan iman dan kesetiaan kepada Tuhan

Rekam Jejak Iman Kita

Hakim-hakim 5

Setiap orang memiliki rekam jejak hidup.
Apa yang kita lakukan, bagaimana kita bersikap, dan bagaimana kita merespons masalah—semuanya meninggalkan jejak.

Dalam Hakim-hakim 5, Debora dan Barak menyanyikan sebuah lagu.
Lagu itu bukan sekadar pujian, tetapi juga menjadi rekam jejak iman bangsa Israel.

Di dalamnya ada cerita tentang kegagalan—
ketika mereka meninggalkan Tuhan.

Ada juga cerita tentang pertobatan—
ketika mereka kembali berseru kepada-Nya.

Ada kemenangan, ada ketakutan,
ada orang-orang yang berani, dan ada yang memilih diam.

Semua dicatat… apa adanya.

Bukankah ini juga seperti hidup kita?

Ada masa kita dekat dengan Tuhan.
Ada masa kita jatuh dan lalai.
Ada saat kita taat, tetapi ada juga saat kita mengabaikan suara-Nya.

Namun yang terpenting bukanlah apakah kita pernah jatuh,
melainkan apakah kita mau kembali kepada Tuhan.

Rekam jejak iman bukan tentang kesempurnaan,
tetapi tentang kesetiaan untuk terus belajar dan bertumbuh.

Hari ini, mari kita bertanya:
jejak seperti apa yang sedang kita tinggalkan?

Apakah hidup kita membawa orang lain semakin mengenal Tuhan?
Apakah kita menjadi teladan bagi orang di sekitar kita?

Suatu hari, mungkin bukan lagu seperti Debora,
tetapi hidup kita sendiri akan “berbicara” kepada orang lain.

Karena itu, marilah kita hidup dengan sadar—
mengasihi Tuhan, memuji Dia, dan berjalan dalam ketaatan setiap hari.

Doa

Tuhan,
aku ingin memiliki rekam jejak iman yang berkenan di hadapan-Mu.

Ampuni aku untuk setiap kegagalan dan kelemahanku.
Tolong aku untuk belajar dari setiap kesalahan
dan terus bertumbuh dalam iman kepada-Mu.

Pimpin langkah hidupku,
agar hidupku menjadi kesaksian yang baik bagi orang lain.

Amin.

 

Share:

Renungan Harian "Saat Tuhan Mengubah Jalan Cerita"

Jalan hidup yang berbelok sebagai simbol rencana Tuhan yang tak terduga

Saat Tuhan Mengubah Jalan Cerita

Hakim-hakim 4

Dalam hidup, kita sering punya bayangan sendiri tentang bagaimana sesuatu akan terjadi.
Kita merasa sudah tahu siapa yang akan “berhasil”, bagaimana masalah akan selesai.

Namun sering kali… Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda.

Dalam kisah ini, kita melihat Debora dan Barak sebagai tokoh utama.
Secara logika, merekalah yang akan membawa kemenangan terbesar.

Namun ternyata, di akhir cerita, Tuhan memakai seseorang yang tidak terduga—Yael.

Bukan pemimpin besar.
Bukan tokoh yang menonjol.
Bahkan berasal dari pihak yang tampaknya tidak berpihak kepada Israel.

Tetapi justru melalui Yael, Tuhan menyelesaikan kemenangan itu.

Inilah cara Tuhan bekerja—
tidak selalu sesuai dengan logika kita.

Bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita?

Kita sudah merencanakan dengan rapi.
Kita berharap jalan tertentu terjadi.
Namun kenyataan berjalan berbeda.

Kadang kita kecewa…
kadang kita bingung…
bahkan kita bertanya, “Tuhan, mengapa seperti ini?”

Namun firman hari ini mengingatkan kita:
Tuhan tahu apa yang Ia lakukan.

Ia bisa memakai cara yang tidak kita duga.
Ia bisa memakai orang yang tidak kita perhitungkan.
Ia bisa mengubah arah cerita hidup kita secara tiba-tiba.

Dan semua itu bukan untuk menghancurkan kita,
tetapi untuk membawa kita kepada rencana-Nya yang lebih baik.

Hari ini, mungkin kita sedang berada di tengah cerita yang belum kita mengerti.
Namun percayalah—Tuhan sedang menulis bagian yang indah.

Tugas kita bukan memahami semuanya,
tetapi tetap percaya dan berserah.

Doa

Tuhan,
aku sering tidak mengerti jalan-Mu dalam hidupku.

Ampuni aku jika aku mudah kecewa saat rencana-Mu berbeda dari harapanku.
Tolong aku untuk belajar percaya bahwa Engkau selalu bekerja untuk kebaikan.

Ajarku untuk berserah penuh kepada-Mu,
dan percaya bahwa Engkau sedang menulis cerita terbaik dalam hidupku.

Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 19.April 2026

 

1. Mulia Sembah Raja Mulia (Majesty) [1]
Mulia, sembah Raja Mulia
Bagi Yesus puji, hormat, dan kuasa
Mulia, agung K'rajaan-Nya
Dari surga datang untuk s'genap umat-Nya [1]
Dipuji, ditinggikan nama-Nya Yesus
Hormat dan muliakanlah Yesus Raja
Mulia, sembah Raja Mulia
Dia t'lah mati, dibangkitkan jadi Raja [1, 2]
2. Yesus Kau Sungguh Baik [1]
Yesus, Kau sungguh baik
Yesus, nama-Mu indah
Yesus, kucinta Kau selalu
Kutinggikan, kuagungkan selamanya [1, 2]
'Ku mau memuji-Mu, 'ku selalu puji-Mu
'Ku mau menyembah-Mu, 'ku selalu sembah-Mu
Kau yang layak terima semua pujian
Kemuliaan hanya bagi Tuhan [1, 2]
3. Jangan Lelah (Bekerja di Ladang-Nya)
Jangan lelah bekerja di ladang-Nya Tuhan
Roh Kudus yang b'ri kekuatan
Yang mengajar dan menopang
Tiada lelah bekerja bersama-Mu Tuhan
Yang selalu mencukupkan akan segalanya [1, 2, 3]
Chorus:
Ratakan tanah bergelombang
Timbunlah tanah yang berlubang
Menjadi siap dibangun
Di atas dasar iman [1, 2]
4. Pekerja Kristus yang Mulia
Telah lama kucari-cari
Langkah hidup yang lebih pasti
Hidup penuh kemenangan setiap hari
Suatu saat Yesus panggilku
Menjadi pekerja melayani jadi saksi bagi Dia [1]
Bukan sembarang pekerja, la la la
Yesusku luar biasa, la la la
Dia Raja s'gala raja, la la la
Memanggilku menuai ladang-Nya
Hanya anug'rah semata, la la la
Aku dipakai oleh-Nya, la la la
Sungguh amat istimewa
Menjadi pekerja Kristus yang mulia [1]
5. Semua Karna Kebaikan-Nya
(Lirik umum)
Semua karna kebaikan-Nya
Semua karna kasih setia-Nya
'Ku ada sebagaimana 'ku ada
Semua karna kebaikan-Nya
6. Kerja Buat Tuhan
Kerja buat Tuhan selalu manis pada akhirnya
Biarpun susah, hati susah,
tapi kerja buat Tuhan selalu manis pada akhirnya [1]
Jalan hidupku tak selalu rata
Kadang jalan berliku, kadang jalan berlubang
Namun Tuhan janjikan kekuatan
Maka ku 'kan terus melayani-Nya
Share:

Renungan Harian "Dipakai Tuhan dengan Cara yang Unik"

Seseorang dengan keunikan diri yang dipakai Tuhan untuk melakukan rencana-Nya

Dipakai Tuhan dengan Cara yang Unik

Hakim-hakim 3:12–31

Setiap orang berbeda.
Ada yang merasa dirinya biasa saja…
bahkan mungkin merasa punya kekurangan.

Ehud juga berbeda.
Ia seorang yang bertangan kidal—sesuatu yang jarang pada zamannya.

Namun justru melalui “keunikan” itu, Tuhan memakainya.

Ketika bangsa Israel jatuh dalam dosa,
mereka kembali tertindas.
Mereka berseru kepada Tuhan,
dan Tuhan membangkitkan Ehud sebagai penyelamat.

Ehud memakai cara yang tidak biasa.
Ia menyembunyikan pedang di tempat yang tidak terduga.
Dan melalui strategi itu, Tuhan memberi kemenangan.

Dari sini kita belajar:
Tuhan tidak mencari orang yang sempurna,
tetapi orang yang mau dipakai.

Bahkan hal yang kita anggap kelemahan,
bisa dipakai Tuhan menjadi jalan berkat.

Sering kali kita membandingkan diri dengan orang lain.
Merasa tidak cukup baik.
Tidak cukup pintar.
Tidak cukup rohani.

Padahal Tuhan tidak pernah salah menciptakan kita.

Ia memberi setiap orang keunikan—
dengan tujuan tertentu.

Hari ini, Tuhan mengajak kita untuk berhenti membandingkan diri.
Mulai melihat diri kita dengan cara Tuhan melihat kita.

Apa yang ada pada kita sekarang—
kemampuan, pengalaman, bahkan kelemahan—
semuanya bisa dipakai Tuhan.

Pertanyaannya bukan, “Apakah aku cukup?”
Tetapi, “Apakah aku mau dipakai Tuhan?”

Doa

Tuhan,
terima kasih karena Engkau menciptakanku secara unik.

Ampuni aku jika aku sering membandingkan diriku dengan orang lain
dan merasa tidak cukup.

Tolong aku untuk melihat diriku seperti Engkau melihatku.
Pakai hidupku dengan cara-Mu, sesuai kehendak-Mu.

Ajarku untuk setia dan siap dipakai,
apa pun yang Engkau percayakan kepadaku.

Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.