Imamat 24:10-23
Dalam bacaan hari ini (Imamat 24), dikisahkan seorang anak dari perempuan Israel yang menghujat nama TUHAN dengan mengutuk. Ia dibawa kepada Musa (ay. 11), dan Allah memberi perintah tegas: orang itu harus dibawa ke luar perkemahan dan dilempari batu oleh seluruh umat (ay. 14). Setiap orang yang mendengar makian itu harus meletakkan tangan di kepala orang itu—sebagai simbol bahwa ia menanggung sendiri kesalahannya. Ini adalah bentuk penghukuman yang sangat serius karena ia telah menghina kekudusan Allah.
Kita mungkin merasa bahwa hukuman ini terlalu berat. Tapi itu menunjukkan betapa seriusnya kekudusan Allah di mata-Nya. Allah tinggal di tengah perkemahan Israel (Kel. 25:8), dan perkemahan itu harus dijaga tetap kudus. Jika ada yang menajiskannya, maka harus disingkirkan agar kekudusan Allah tetap dihormati.
Kadang kita berpikir bahwa nyawa manusia adalah yang paling penting, sehingga merasa tidak nyaman dengan hukuman seperti ini. Tapi Allah ingin menunjukkan bahwa kekudusan-Nya jauh lebih utama daripada apa pun, bahkan nyawa sekalipun. Bahkan Musa dan Harun pun tidak diizinkan masuk ke Tanah Perjanjian karena tidak menghormati kekudusan Allah (Bil. 20:12). Dan Yesus sendiri mengajarkan bahwa doa pertama kita kepada Allah adalah: “Dikuduskanlah nama-Mu” (Mat. 6:9).
Ini adalah panggilan bagi kita: menjadikan kekudusan Allah sebagai prioritas utama dalam hidup. Dalam setiap keputusan—baik dalam pekerjaan, relasi, maupun pelayanan—pertanyaannya bukan: “Apa untungnya untukku?” melainkan, “Apakah ini menghormati kekudusan Tuhan?”
Hanya ketika kita hidup dengan kesadaran akan kekudusan Allah, kita bisa benar-benar berkenan kepada-Nya. Mari belajar untuk menghormati dan menjunjung tinggi kekudusan-Nya dalam segala hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar