Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Layakkah Engkau Marah?

Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?”
- Yunus 4:4

Seorang bapak ketika melihat anaknya sembuh dari sakit berkata, “Puji Tuhan!” Seorang mahasiswa ketika lulus dari sidang skripsi juga bersorak, “Puji Tuhan!” Seorang karyawan yang mendapatkan promosi jabatan, spontan berujar, “Puji Tuhan!” Kita bisa dengan mudah bersyukur dan memuji Tuhan ketika mengalami yang baik atau harapan kita terwujud. Namun ketika yang dialami bertolak belakang dengan apa yang kita harapkan, bagaimana reaksi kita? Apakah kita masih memuji atau marah kepada Tuhan?
Yunus marah kepada Tuhan karena orang-orang jahat di kota Niniwe yang dibencinya, ketika mendengarkan khotbah pendek yang hanya satu kalimat (Yun. 3:4), mereka kemudian bertobat. Ia tidak suka dengan pertobatan mereka. Yunus seorang nabi lebih suka mereka dihukum bukan diselamatkan. Ia marah-marah ketika menyaksikan pertobatan massal itu terjadi. Tuhan lalu bertanya, “Layakkah engkau marah?” Yunus kembali marah kepada Tuhan ketika pohon jarak yang Tuhan tumbuhkan, Dia izinkan untuk layu kembali, Yunus marah karena tempat berteduhnya hilang, ia marah karena keadaannya tidak mengenakkan (ay. 6-9). Lalu Tuhan berkata lagi, “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Yunus marah untuk hal-hal yang sebetulnya dia tidak punya hak untuk marah.
Kadang kala tanpa disadari, kita berlaku tidak adil terhadap Tuhan. Kita sepertinya berhak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan sehingga sering menempatkan diri sebagai Tuhan atas hidup. Ketika pemberian-pemberian dari Tuhan Dia izinkan hilang atau diambil-Nya, kita pun dengan mudah menyalahkan Tuhan. Apalagi dengan sesama, kita merasa sangat berhak untuk menghakimi orang lain.
Namun, kesabaran Tuhan begitu besar. Semua manusia seharusnya dihukum karena dosa, tidak ada seorang pun yang luput, padahal selayaknya Tuhan murka. Tetapi karena kasih karunia Tuhan, kita tidak dimurkai-Nya. Kemurkaan Tuhan yang seharusnya kita terima tidak terjadi, melainkan justru kasih-Nya yang besar melalui Tuhan Yesus Kristus yang kita dapatkan. Jika segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencana kita dan kita marah-marah kepada Tuhan, ingatlah perkataan Tuhan, “Layakkah engkau marah?” Coba kita renungkan: apakah kita berhak untuk marah kepada Tuhan? Apakah Tuhan sudah melakukan kesalahan dalam hidup kita? Apakah Tuhan sudah berbuat jahat kepada kita?
Refleksi Diri:
Apakah Anda pernah/sedang marah kepada Tuhan atas masalah yang terjadi dalam hidup Anda?
Bagaimana seharusnya sikap Anda kepada Tuhan ketika hidup tidak sesuai dengan apa yang Anda harapkan?
Share:

Orang Hidup Punya Harapan

Pengkhotbah 9:1-10

Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.
- Pengkhotbah 9:4

Jika meneliti lebih dalam kitab Pengkhotbah, kita akan menemukan hal menarik. Pembacaan sekilas kitab ini akan membawa kita pada kesimpulan bahwa nada kitab Pengkhotbah itu pesimis, ditandai dengan pengulangan kata “sia-sia” sampai 79 kali. Namun, sebenarnya Pengkhotbah tidak mengajarkan pesimisme. Di antara ayat-ayat yang berkesan pesimis justru kita menemukan ayat yang optimis seperti ayat di atas.

Pada ayat 1-3 perikop bacaan, Pengkhotbah mengatakan bahwa semua manusia pada dasarnya menuju tujuan yang sama, yaitu alam orang mati. Seolah-olah tak ada bedanya antara orang baik dan orang jahat. Sampai di sini kita masih melihat nada pesimis. Akan tetapi, Pengkhotbah 9:4 menandai awal perspektif yang berbeda. Ia menekankan keberhargaan kehidupan dibandingkan kematian. Bahwa hidup, sekalipun dalam keadaan menderita atau dianggap hina (seperti anjing), masih lebih baik daripada kematian. Sekadar catatan, pada masa kitab Pengkhotbah ditulis, ajaran tentang kehidupan setelah kematian belum sejelas pada masa Perjanjian Baru sehingga mereka menganggap kematian sebagai akhir segala kehidupan (bdk. Pkh 9:5).
Seseorang disebut hidup jika ia mempunyai harapan. Harapan akan sesuatu yang lebih baik, harapan menjalani hidup yang bermakna, harapan melakukan sesuatu bagi kemuliaan Allah sebelum menghadap takhta pengadilan-Nya (Pkh. 12:14). Seorang yang berpengharapan tidak akan berdiam diri. Ia akan berusaha sebaik-baiknya menjalani kehidupan ini (Pkh. 9:10). Selaras dengan yang dikatakan Rasul Paulus, “Pergunakanlah waktu yang ada (dengan sebaik-baiknya—tambahan penulis), karena hari-hari ini adalah jahat” (Ef. 5:16).
Harapan juga membuat perbedaan ketika seseorang menghadapi tantangan kehidupan. Selama seseorang masih punya harapan, ia akan sanggup menjalani kehidupan, betapa pun beratnya. Dengan demikian, pengkhotbah ingin menyampaikan pesan, “Jangan menyerah, jangan berputus asa. Meskipun hidup ini sia-sia, tidak berarti tidak ada harapan dalam hidup. Hidup adalah berkat yang Tuhan berikan pada manusia. Kehidupan itu lebih baik daripada kematian. Karena itu, selama masih hidup, jadikanlah hidupmu berarti.”

Refleksi Diri:
Mengapa harapan sangat penting bagi hidup kita?
Bagaimana menyatakan sikap hidup berpengharapan di dalam hidup sehari-hari Anda?
Share:

Haus Akan Tuhan

Mazmur 42:1-12

Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
- Mazmur 42:3

Pendeta dan penulis Amerika, A.W. Tozer berpendapat, “Salah satu musuh terbesar orang Kristen adalah cepat puas diri secara rohani. Kekristenan telah jatuh dalam keadaannya yang rendah sekarang ini karena kurangnya hasrat akan Allah. Di antara mereka yang mengaku sebagai orang Kristen sangat jarang memperlihatkan rasa haus yang bergairah akan Tuhan.” Fenomena riil saat ini memperlihatkan bahwa tidak banyak orang yang mau membayar harga dan berkorban untuk mengejar pengenalan akan Allah. Umumnya, kita lebih berani berkorban demi mencapai kesuksesan jasmaniah dibandingkan rohaniah, bukan?
Rasa haus dan lapar merupakan tanggapan tubuh sebagai tanda bahwa tubuh kita masih hidup. Demikian juga dalam hal kerohanian. Salah satu indikator kerohanian kita masih hidup dan sehat adalah adanya rasa haus dan lapar akan Tuhan. Berhenti haus dan lapar akan Allah berarti kita sedang mati secara rohani.
Ayat di atas mencerminkan kehidupan rohani Pemazmur. Ia menganalogikan orang percaya dengan rusa yang haus akan air, yang selalu mencari pemuasan dan kepuasan di dalam Tuhan saja. Karena harta kekayaan, kesenangan, hobi, maupun makanan, tak satu pun dapat memuaskan dahaga jiwa kita. Hanya di dalam Tuhan Yesus, kita menemukan kepuasan sejati. Yesus mengundang kita datang kepada-Nya, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh. 6:35). Kristus adalah makanan yang memelihara kehidupan kerohanian sehingga kita yang percaya kepada-Nya pasti mengalami kepuasan jiwa.
Jangan biarkan perkara duniawi menghambat dan mengurangi kerinduan jiwa kita akan Tuhan. Tidaklah salah menikmati berkat-berkat Tuhan, tapi jangan sampai kita terikat padanya. Itu bukan tujuan hidup, tapi sarana hidup. Ingatlah, tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selamanya. Karena itu, waspadalah terhadap ketamakan, usaha mengejar kesenangan dan kenikmatan dunia yang menghalangi kecintaan kita kepada Tuhan. Berdoalah agar keinginan akan hadirat Tuhan diperkuat, kasih kita akan Tuhan makin bertambah, dan hasrat untuk membaca Alkitab makin bertambah. Kerinduan akan relasi dengan Tuhan melalui doa makin intensif dan komitmen melayani Tuhan makin bertumbuh.
Refleksi Diri:
Kapan terakhir kali Anda memiliki rasa haus dan lapar akan Tuhan? Apa yang menghalangi rasa haus Anda akan Tuhan saat ini?
Apa yang Anda akan lakukan untuk menumbuhkan atau membangkitkan kembali rasa lapar dan haus akan Tuhan?
Share:

Tenang dan Percaya

Nats: Yesaya 30:15, 
Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan nyaman dan diam kamu akan diselamatkan dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tapi kamu enggan”

Bagi orang yang tidak bisa berenang, tercebur ke kolam yang dalam adalah pengalaman yang menakutkan. Orang itu tentu membutuhkan pertolongan. Namun, supaya bisa ditolong dia harus tenang, mendengarkan, dan menurut petunjuk penolongnya. Kepanikan hanya akan menambah bahaya baginya.
Yehuda sedang panik. Di tengah krisis, mereka sibuk mencari bantuan dengan caranya sendiri. Mereka memutuskan untuk melindungi bangsa lain yang menurut mereka lebih kuat daripada bangsa penyerang.
Mereka mencari perlindungan kepada Mesir dan melupakan Allah (2). Padahal, Allah menginginkan agar mereka tetap tenang dan percaya kepada-Nya. Firman Allah yang datang kepada mereka mengingatkan bahwa berharap kepada Mesir dan kekuatan perangnya hanya akan membuat mereka malu, sebab Mesir tidak akan berdaya menghadapi Asyur (3, 7). Allah menyebut mereka sebagai anak-anak pemberontak, sebab sekalipun mereka adalah anak-Nya tetapi mereka tidak mau mendengarkan suara-Nya yang datang melalui nabi-Nya. Justru mereka membungkam dan mengusir nabi itu (10-11). Saat Allah meminta mereka tinggal tenang dan berharap kepada-Nya, Yehuda justru sibuk dengan kepanikannya.
            Kita pasti pernah mengalami peristiwa yang berat dalam hidup ini. Pada saat seperti itu, kita punya dua pilihan.
Pertama, kita bereaksi terhadap kepanikan dan berpikir pendek mengenai penyelesaian masalah sesegera mungkin.

Kedua, kita merespons dengan berhenti sejenak untuk menenangkan diri, berdoa memohon pertolongan Allah dan hikmat-Nya.
            Cara pertama akan mendorong kita untuk mengambil pilihan yang tidak cermat bahkan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Cara kedua akan memberi kesempatan kepada Allah untuk bekerja menolong dan membuat kita berpikir jernih.
Jadi dengan pilihan yang ada itu, memilih tetap tenang dan percaya serta mengikuti kehendak Allah adalah pilihan yang terbaik. Akankah Anda memilihnya?
Hanya kepada Tuhanlah, Israel seharusnya berharap. Kesetiaan dan kemahakuasaanNya telah terbukti  benar-benar berdaulat sebab itu jangan lupakan Tuhan. 
Saudara-saudara percayalah dan arahkanlah hati kita pada pimpinan Tuhan, itulah harapan satu-satunya yang takkan pernah luntur tetapi membuahkan kedamaian, selanjutnya yakinilah bahwa kita akan melihat bagaimana Allah akan bertindak mengatasi setiap masalah dalam kehidupan kita.
Tuhan Yesus nemberkati…
Share:

Alkitab Di Tangan

2 Raja-raja 23:1-30
Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
- Mazmur 119:105
Jakob Van Bruggen, seorang profesor Perjanjian Baru mengatakan, “Gereja Kristen yang Am di sepanjang masa mempunyai Rajanya di surga, Roh Allah di hatinya, dan Alkitab di tangannya.” Bruggen menyampaikan keterkaitan dengan Alkitab merupakan karakteristik utama dari gereja Tuhan dan murid Tuhan yang sejati. Seseorang tidak bisa menjadi Kristen jika tidak hidup bergaul dan dituntun oleh Alkitab dalam setiap tindak- tanduk kehidupannya. Kehidupan Kristen didasari oleh wahyu Allah, bukan oleh penilaian manusia. Alkitab diberikan Tuhan bagi manusia agar kita dapat mengerti kehidupan seperti apa yang Tuhan kehendaki.
Raja Yosia dapat melakukan transformasi rohani di Yehuda semata-mata karena ia dituntun oleh firman Tuhan, khususnya kitab Taurat. Sebelum Taurat ditemukan di Bait Suci, bangsa Israel hidup berkubang dosa. Mereka mengikuti raja-raja sebelum Yosia dan terlibat dalam penyembahan berhala. Mereka tidak lagi mengunjungi Bait Suci untuk berbakti kepada Tuhan. Setelah Taurat ditemukan, umat Tuhan ini pun acapkali mengabaikan firman Tuhan yang tertulis di dalamnya. Betapa terpuruknya kehidupan umat Tuhan yang meninggalkan wahyu Tuhannya.
Setelah membaca kitab Taurat, Yosia kembali mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi hidupnya dan bangsa Israel. Ia mengembalikan peribadatan yang benar kepada Tuhan di Bait Suci. Ia menghancurkan segala tempat penyembahan berhala beserta patung- patung sesembahannya. Yosua juga memperbarui perjanjian antara Tuhan dan bangsa Israel, yaitu mereka akan hidup mengikut Tuhan dengan segenap hati dan jiwa. Paskah kembali dirayakan sehingga bangsa Israel tahu bahwa Tuhan adalah Allah yang telah menyertai mereka sepanjang zaman, bukannya berhala. Yosia juga mengusir semua orang-orang jahat yang memengaruhi bangsa Israel untuk menduakan Allah. Yosia melakukan ini semua karena ada Alkitab di tangannya.
Tanpa Alkitab napas hidup kita tidak akan berhenti. Hidup kita akan terus berjalan meskipun tidak membaca Alkitab. Namun, yakinlah hidup Anda tidak akan sejalan dengan kehendak Allah tanpa Alkitab. Tidak ada hari depan yang penuh pengharapan bagi Anda di luar Alkitab (Yer. 29:11).
Refleksi Diri:
Apakah Anda masih membaca Alkitab setiap hari? Jika tidak, bagaimana Anda ingin memperbaiki komitmen Anda dalam hal tersebut?
Apa yang akan terjadi dengan kehidupan Anda jika tidak dituntun oleh Alkitab?
Share:

Sikap Dalam Memberi Persembahan

2 Korintus 9:7-12
Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
- 2 Korintus 9:7

Perjanjian Lama memuat banyak kejadian penyembahan berhala. Mulai dari penyembahan kepada patung lembu emas, penyembahan allah yang disembah oleh bangsa-bangsa di sekitar orang Israel, pemberian korban bakaran untuk dewa-dewa Mesir, dan lain sebagainya. Ah, semua itu kan masa lalu! Zaman sekarang tidak banyak orang menyembah patung dan siapa saat ini yang membakar kambing/domba untuk dijadikan persembahan? Eits, tunggu dulu. Berhala zaman dahulu wujudnya berbeda dengan berhala zaman sekarang. Hal yang menurut kita baik, bisa jadi itu adalah berhala kita. Mungkin salah satunya adalah dalam hal memberikan persembahan.
Apa tujuan kita dalam memberikan persembahan? Apakah supaya gereja dapat menjalankan fungsinya dengan baik? Atau persembahan hanyalah bentuk tanggung jawab yang harus kita lakukan agar tidak ada orang yang menggunjingkan kita karena tidak memasukkan amplop ke kotak persembahan? Jika tujuan kita adalah hal-hal yang baru disebutkan maka memberikan persembahan hanyalah sebagai tuntutan agamawi yang harus dilakukan dan lama-kelamaan bisa menjadi berhala dalam hati kita. Apa yang harus kita lakukan supaya memberikan persembahan tidak menjadi berhala dalam hidup kita?
Memberikan persembahan seharusnya bukan didasarkan pada pemahaman bahwa jika saya memberikan banyak persembahan maka Tuhan akan memberkati berkali-kali lipat dari apa yang saya berikan kepada-Nya. Bukan pula pemahaman bahwa jika bukan karena saya yang memberikan persembahan maka gereja tidak bisa berkembang hingga sekarang.
Memberikan persembahan yang Tuhan kehendaki ialah didasari sukacita, kasih, dan rasa syukur kita kepada Allah yang telah lebih dahulu menyatakannya kepada kita (ay. 7, 12). Tiga prinsip dalam memberi yang benar dari ayat emas di atas. Pertama, memberi dengan kerelaan hati atau sukarela karena kita memberi kepada Tuhan. Kedua, memberi dengan sukacita, bukan dengan sedih hati sebab saat kita memberi, kita bukannya kehilangan, melainkan sedang menabur. Ketiga, memberi bukan karena terpaksa sebagai kewajiban agamawi, melainkan harus dengan ketulusan hati. Marilah memeriksa sikap hati kita dalam hal memberi persembahan. Ingat, Tuhan Yesus telah lebih dahulu memberi banyak anugerah dalam hidup kita, terlebih pemberian hadiah keselamatan dengan cuma-cuma.
Refleksi Diri:
Apa tujuan Anda selama ini dalam memberi persembahan? Apakah sudah didasari pemahaman yang benar?
Apakah Anda sudah memberi persembahan sesuai dengan ketiga prinsip yang disampaikan di atas?
Share:

Bekerja Dipenuhi Roh Kudus

Keluaran 31:1-11

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan,
- Keluaran 31:1-3

Banyak orang Kristen memaknai hidup yang dipenuhi Roh Kudus mengenai hal-hal spektakuler. Jika melihat pekerjaan Roh Kudus hanya sebatas itu maka kuasa kerja Roh Kudus tampak sangat terbatas dan tidak efektif karena hanya bekerja di saat-saat tertentu dan dalam wujud hal-hal spektakuler saja. Apakah Anda pernah berpikir bahwa ketika Anda melakukan pekerjaan sehari-hari seharusnya juga dilakukan berdasar kepenuhan Roh Kudus?

Waktu Tuhan akan membuat kemah suci, Dia memilih dua orang yang ahli dalam pekerjaannya, yaitu Bezaleel dan Aholiab. Yang menarik adalah mereka bekerja dengan pimpinan Roh Tuhan bukan hanya dengan skill (keahlian) mereka saja, seperti yang dikutip pada ayat emas. Padahal pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang tampak biasa, tetapi tetap bermakna rohani. Bisa dibayangkan ketika mereka mengasah batu pertama, mengukir kayu, menenun kain dengan jarum dan benang yang ada di tangannya, orang-orang mungkin melihat semuanya adalah pekerjaan biasa. Namun, kita melihat mereka bekerja dalam kepenuhan Roh Tuhan. Mereka bukan asal ahli, tetapi Roh Tuhan yang memimpin sehingga mereka bisa menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya. Seperti dua orang yang dipilih oleh Tuhan, mereka mampu melakukan itu karena dimulai dengan dipenuhi Roh Tuhan. Setiap pekerjaan itu penting bagi Tuhan.

Kita pun harus ingat ini di dalam Efesus 2:10, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Kita diciptakan bukan hanya untuk bekerja atau mencari uang, melainkan dengan tujuan yang lebih utama. Tuhan Yesus yang telah mati dan bangkit, menyelamatkan untuk mengembalikan kita kepada tujuan semula Tuhan, yaitu berkarya di semua lini kehidupan untuk kemuliaan Tuhan.

Pekerjaan apa pun yang Anda jalani hari ini, ingat berjalanlah dalam pimpinan Roh Kudus. Biarlah setiap karya yang Anda buat, tetap terhubung dengan Tuhan. Renungkan dan pikirkan dari pekerjaan yang Anda kerjakan, apa yang bisa dibuat untuk Tuhan? Bagaimana bisa menjadi berkat buat orang banyak?

Refleksi Diri:

Apakah tujuan dan makna dari pekerjaan Anda saat ini?
Apakah yang mau Anda lakukan dari pekerjaan Anda agar dapat memuliakan Tuhan?
Share:

Kekekalan Dalam Hati

Pengkhotbah 3:1-11
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
- Pengkhotbah 3:11

Manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Apa maksudnya? Kita tahu Allah berkuasa mengendalikan segala sesuatu, bahwa segala sesuatu terjadi sesuai musimnya, dan bahwa kita makhluk yang kekal. Namun, pengetahuan itu tidak serta merta membuat kita memahami dan menerima mengapa Allah melakukan ini dan itu. Jalan Allah bukan jalan manusia, rancangan Allah bukan rancangan manusia (Yes. 55:8). Seringkali kita dibiarkan tidak mengerti mengapa sesuatu hal terjadi. Dalam hal ini, kita hanya bisa beriman bahwa jalan-Nya sempurna (Rm. 8:28).

Banyak orang yang menderita berat bertanya kepada Tuhan, “Mengapa ya, Tuhan?” atau “Mengapa saya ya, Tuhan? Apa dosa saya?” Apakah mereka mendapat jawaban? Tidak. Jarang sekali Tuhan berbicara langsung kepada mereka menyatakan alasan penderitaan tersebut. Bahkan Ayub pun tidak langsung mendapat jawaban ketika menderita sangat berat. Sampai akhir kitab Ayub, kita tidak mendapatkan penjelasan langsung Allah kepada Ayub mengapa ia menderita. Ayub hanya diperintahkan untuk percaya dan mengakui kedaulatan Allah. Jadi, alih-alih bertanya, “Mengapa?”, lebih baik kita membuat pernyataan “Aku percaya ya, Tuhan! Percaya kepada rancangan-Mu adalah yang terbaik bagi hidupku.”

Saya coba kutipkan apa yang dikatakan Matthew Henry sebagai wasasan tambahan, “Setiap hal adalah seperti yang Tuhan buat; tidak seperti yang tampak bagi kita. Kita terlalu banyak menyimpan dunia di dalam hal kita, terlalu dikuasai pikiran dan beban hal duniawi sehingga tidak punya waktu dan hati untuk melihat tangan Allah di dalamnya. Dunia tidak hanya berhasil menguasai hati kita tetapi telah membangun pikiran yang berlawanan dengan keindahan karya Allah.”

Tuhan Yesus pernah menderita sangat saat harus memikul salib dan meregang nyawa di atas kayu salib tersebut untuk memberikan rancangan hidup indah dan kekal bagi kita. Marilah belajar melihat bahwa penderitaan yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita berada di dalam rancangan-Nya dan pada akhirnya membawa kebaikan kepada kita.

Refleksi Diri:

Mengapa pertanyaan “mengapa saya menderita” adalah pertanyaan yang sia-sia?
Bagaimana seharusnya Anda bersikap ketika menderita?
Share:

Kekekalan Dalam Hati

Pengkhotbah 3:1-11

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
- Pengkhotbah 3:11

Pengkhotbah 3:11 adalah ayat terkenal. Namun, seringkali hanya dikutip bagian awalnya saja, sampai kata “waktunya”. Yang menarik justru bagian selanjutnya. Setidaknya ada dua pertanyaan, yaitu apa yang dimaksud dengan “Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka” dan “manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir”.

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Allah menanamkan dalam hati manusia kesadaran akan kekekalan, bahwa yang di dunia ini hanyalah sementara, bukan final. Kehidupan manusia di dunia ini tidak selesai begitu saja ketika manusia mati. Ada sesuatu yang tidak dapat kita lihat dan alami di sini dan sekarang ini. Musim kehidupan seperti yang digambarkan dalam ayat 1-8 hanyalah sebagian dari keseluruhan. Tidak ada yang memuaskan di dunia ini (Pkh. 1:2). Akan tetapi, sekalipun hidup manusia naik-turun dan berubah-ubah, ada satu hal yang pasti dan tidak berubah, yaitu kekekalan di dalam hati manusia.

Kitab Pengkhotbah sepertinya mengajarkan pesimisme dalam hidup dengan sering sekali memakai kata “sia-sia”. Namun, sesungguhnya bukan itu tujuannya. Pengkhotbah mengajari kita bahwa hidup akan menjadi sia-sia jika hanya berfokus pada kehidupan di muka bumi ini dan saat ini. Jika kita melihat kehidupan melampaui masa yang sekarang maka hidup tidak akan lagi menjadi sia-sia. Jika kita fokus pada kehidupan kekal yang ada di dalam Yesus Kristus maka hidup akan menjadi berarti.

Jauh sebelum Kristus lahir ke dalam dunia, Pengkhotbah sudah menyatakan bahwa kebahagiaan hidup manusia hanya ada di dalam Allah yang hidup. Dia sudah mengarahkan pesan tulisannya pada kedatangan Yesus Kristus yang menjamin kehidupan kekal bagi manusia. Bahwa Tuhan Yesus-lah yang mampu mengubah kesia-siaan dalam kefanaan dunia ini menjadi kebermaknaan dalam kehidupan kekal di dalam-Nya dan bersama-Nya.

Mari semua anak Tuhan, kerjakanlah keselamatan Anda dengan menjalani hidup sekarang yang fana dengan hal-hal berarti dan bersifat kekal. Hendaklah hidup kita mempermuliakan nama Tuhan. Jangan sia-siakan hidup!

Refleksi Diri:

Apakah kesalahannya jika Anda hanya memikirkan perkara fana di dunia ini?
Mengapa penting mengarahkan pikiran kita pada perkara kekal, yaitu kehidupan kekal di dalam Tuhan Yesus?
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.