Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Berlindung pada Sumber Kehidupan

Keluaran 9:13-35

Allah kembali memberi ultimatum kepada Firaun, "Lepaskan atau rasakan akibatnya!" Firaun harus membiarkan bangsa Israel pergi untuk beribadah. Jika tidak, seluruh Mesir akan merasakan hukuman dari Allah (13).

Perhatikan bagaimana Allah menghantam bangsa Mesir! Seluruh negeri dilanda hujan es. Hujan es ini bukan seperti salju yang lembut, melainkan bongkahan es sebesar kepalan tangan, bahkan lebih besar, yang jatuh dari langit dengan kecepatan tinggi. Gaya gravitasi membuat setiap batu es berpotensi mematikan (18).

Tulah ketujuh ini memastikan Mesir akan mengalami bencana kelaparan besar. Jumlah ternak yang sudah berkurang akibat tulah kelima akan semakin menyusut. Selain itu, lahan pertanian juga rusak parah (25). Tanaman biji-bijian dan sayuran gagal dipanen.

Namun, Allah masih menunjukkan belas kasihan dengan dua cara. Pertama, Ia memberi petunjuk bagi mereka yang ingin selamat dari bencana (19). Kedua, tidak semua bahan makanan pokok dimusnahkan (32). Akibatnya, bangsa Mesir pun terbagi dua. Sebagian mulai takut kepada TUHAN (20), sedangkan sebagian lagi tetap mengabaikannya.

Setelah menikmati kelimpahan tanpa mengindahkan Allah, terkadang "kedinginan rohani," krisis rohani, atau ancaman kelaparan dapat membangunkan seseorang dari hidupnya yang nyaman. Sebuah krisis dapat mengajarkan kita untuk mencari dan menghargai Allah, Sang Sumber Kehidupan yang sejati. Hal ini juga bisa terjadi pada orang Kristen.

Apakah ada sesuatu yang menjadi dingin dalam hidup kita? Mungkinkah kita telah kehilangan kehangatan dalam hubungan kita dengan Allah dan sesama? Bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap ketenaran atau kekayaan? Apa makna hidup yang sebenarnya?

Solusi bagi pergumulan hidup kita adalah mendekat kepada Allah! Mari kita berlindung kepada-Nya, sumber kebahagiaan dan kehangatan yang sejati. Jangan terus berada di luar! Hidup kita akan bermakna ketika kita hidup dalam Sang Sumber Kehidupan.

Share:

Mengeras, Lalu Pecah

Keluaran 9:8-12

Mengultimatum orang yang keras kepala seringkali hanya buang-buang waktu. Tulah keenam ini memiliki perbedaan dari tulah sebelumnya. Kali ini, Allah tidak memberi peringatan kepada Firaun sebelum menimpakan tulah tersebut. Allah memerintahkan Musa untuk menaburkan abu di hadapan Firaun (ayat 8). Abu yang ditaburkan oleh Musa itu berubah menjadi bisul bernanah di kulit orang-orang Mesir. Siapa pun yang terkena, hidupnya menderita. Bahkan menggaruk dengan pecahan kaca pun tak mampu meredakan sakitnya (bdk. Ayub 2:8).

Perhatikan satu hal penting, yaitu perbandingan antara bisul dan hati Firaun. Bisul pada orang Mesir menjadi keras lalu pecah. Nanahnya keluar, dan daging menjadi lembut kembali. Namun, anehnya, hati Firaun tetap keras (ayat 12). Kenajisan dan kejahatan terus bertumpuk di dalam hatinya.

Dengan menimpakan bisul, Allah menegur orang Mesir. Ia menggugat kenyamanan yang telah mereka nikmati. Selama berabad-abad, mereka hidup nyaman di atas penderitaan orang lain. Mereka telah lama menikmati hasil dari perbudakan manusia.

Saat ini, Tuhan memberi teguran yang sama kepada kita. Beberapa orang Kristen hidup dengan memanfaatkan orang lain dan menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Sebagian gereja menikmati fasilitas mewah, sementara jemaat lain beribadah dalam keterbatasan, bahkan masih beribadah di bawah terpal.

Apakah perlu Tuhan menaburkan abu lagi dalam hidup kita? Seharusnya tidak, karena kepada kita telah diberikan benih yang berbeda, bukan abu. Benih itu adalah firman Allah (bdk. Lukas 8:11) yang menyelamatkan. Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi" (bdk. Matius 5:5).

Mari luangkan waktu sejenak untuk memeriksa kondisi hati kita masing-masing. Jika hati kita masih keras, mintalah agar Allah melembutkannya. Biarkan Dia mengeluarkan segala kebusukan yang ada di dalamnya. Prosesnya mungkin menyakitkan, tetapi sebagai umat-Nya, kita harus patuh. Setelah itu, kita akan menemukan ketenangan dalam hidup kita.

Pagi ini, mohonkanlah berkat dari TUHAN untuk Bapak, Ibu, jemaat, saudara-saudari sekalian. Semoga kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera mengalir dalam hidup kita semua. Semoga berkat juga mengalir ke dalam rumah tanggamu, anak-anak dan cucu-cucumu, pekerjaanmu, sawah ladangmu, usahamu, kantor dan para pelanggannya, rumahmu, keluargamu, pelayananmu, gerejamu, majikanmu, dan calon pendamping hidupmu.

Dalam nama TUHAN YESUS, kiranya berkat-Nya melimpah dalam hidup kami. Yang percaya katakan AMIN.!!! TUHAN YESUS memberkati.
Share:

Diperbudak oleh Nafsu Memperbudak

Keluaran 9:1-7

Setiap orang adalah budak dari sesuatu, termasuk Firaun, raja Mesir. Kali ini, TUHAN, Allah orang Ibrani, memberikan ultimatum kepada Firaun: "Lepaskan atau rasakan akibatnya!" Firaun harus melepaskan bangsa Israel; jika tidak, seluruh Mesir akan menerima hukuman dari Allah.

Konsekuensi jika ultimatum itu diabaikan adalah munculnya penyakit sampar yang akan memusnahkan jutaan ternak bangsa Mesir secara serentak (2-3). Firaun tidak diberi banyak waktu untuk berpikir atau berdiskusi dengan para menterinya. Ia hanya punya waktu sampai esok hari (5).

Seperti sebelumnya, Firaun tetap memilih untuk memperbudak bangsa Israel. Ia ingin mempertahankan kekuasaannya atas para budak, namun akibatnya, seluruh rakyat Mesir harus menderita. Mereka kehilangan jutaan ternak yang sangat penting sebagai sumber mata pencaharian dan pangan hewani. Firaun lebih peduli pada egonya daripada kesejahteraan rakyatnya.

Pernyataan "setiap orang rentan diperbudak oleh sesuatu" terbukti benar. Ada yang diperbudak oleh keinginan, ketakutan, kenikmatan, hobi, kehormatan, hubungan, kekuasaan, uang, masa lalu, dan lain-lain. Dalam cerita ini, Firaun diperbudak oleh hasrat untuk memperbudak orang lain. Hasrat itu membuatnya menjadi budak kekuasaan. Setiap orang yang diperbudak pasti mengalami penderitaan.

Tanyakanlah pada diri kita masing-masing: Apakah saya seorang pemimpin atau budak? Apakah saya merdeka atau hamba? Apakah saya dikuasai oleh keinginan untuk mengendalikan orang lain? Dapatkah saya lepas dari perbudakan ini?

Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menyampaikan tekad yang serupa dalam tulisannya, "... aku tidak mau membiarkan diriku diperhamba oleh apa pun" (lihat 1Kor. 6:12). Sebagai pemimpin jemaat mula-mula, Paulus selalu memikirkan dan berusaha untuk yang terbaik bagi jemaat. Semoga kita juga bisa menerapkan tekad yang sama dalam kehidupan kita.

Share:

Perlindungan Khusus terhadap Umat

Keluaran 8:20-32

Bencana bisa terjadi di mana saja dan dapat menimpa siapa saja, termasuk umat Allah. Namun, Allah bisa membuat pengecualian agar umat-Nya terlindungi dari bencana.

Mulai dari tulah keempat, berupa lalat pikat, Allah menunjukkan sesuatu yang berbeda. "Tetapi, pada hari itu Aku akan mengecualikan tanah Gosyen, tempat umat-Ku tinggal, sehingga di sana tidak terdapat lalat pikat, supaya engkau mengetahui bahwa Aku, TUHAN, ada di negeri ini. Sebab, Aku akan membuat perbedaan antara umat-Ku dan bangsamu. Besok mukjizat ini akan terjadi" (22-23). Tuhan kemudian melakukan seperti yang telah Ia firmankan; banyak lalat pikat masuk ke dalam istana Firaun, ke rumah para pejabatnya, dan ke seluruh tanah Mesir (24).

Baru pada tulah keempat ini, umat Israel yang tinggal di Gosyen tidak terkena dampaknya. Tuhan melakukannya untuk menunjukkan bahwa Ia hadir di Mesir. Dengan ini, Tuhan menunjukkan perbedaan antara umat-Nya dan bangsa Mesir.

Kita melihat bahwa Allah sengaja memperlihatkan perbedaan dalam pemeliharaan-Nya bagi umat-Nya dan mereka yang bukan umat-Nya. Hal ini sering kita temukan dalam Alkitab. Misalnya, aturan mengenai pembebasan budak Ibrani pada tahun ketujuh (lihat Kel. 21:2) hanya berlaku untuk budak Ibrani, yang merupakan umat Allah. Jelaslah bahwa Allah memberikan perlindungan khusus kepada umat-Nya.

Mungkin kita tidak selalu bisa melihat perbedaan perlindungan Allah bagi orang percaya dan mereka yang tidak percaya. Namun, sebagaimana umat Allah di Gosyen dilindungi, kita dapat mempercayai bahwa Allah melindungi kita sebagai umat-Nya, dengan perlindungan yang khusus dibanding mereka yang bukan umat-Nya. Perlindungan ini diberikan semata-mata karena kita adalah milik Allah.

Bersyukurlah atas perlindungan khusus yang Allah berikan kepada umat-Nya. Kiranya, kita semakin menyadari betapa berbahagianya kita menjadi umat yang dimiliki oleh Allah.

Share:

Hukuman Berkali Lipat

Keluaran 8:16-19

Ketika Allah memberikan hukuman dan manusia tetap tidak mau bertobat, biasanya Allah akan memberikan hukuman yang lebih berat. Prinsip ini juga terlihat dalam sepuluh tulah yang terjadi di Mesir.

Berbeda dengan tulah pertama dan kedua, tulah ketiga diberikan tanpa peringatan. Mungkin TUHAN tidak memberikan peringatan ini sebagai balasan atas Firaun yang telah melanggar janjinya (lihat 8:15). TUHAN langsung menyuruh Musa agar Harun mengulurkan dan memukulkan tongkatnya ke debu tanah, sehingga debu itu berubah menjadi nyamuk di seluruh tanah Mesir (16). Debu yang dahulu digunakan untuk membentuk manusia (lihat Kej. 2:7), kini digunakan sebagai alat tulah. Para ahli sihir Mesir berusaha melakukan hal serupa untuk menciptakan nyamuk, tetapi mereka tidak berhasil (18). Kemudian mereka berkata kepada Firaun: "Ini adalah perbuatan tangan ilahi!" (19).

Dalam hal ini, kita melihat peningkatan dalam kedahsyatan tulah yang TUHAN kirimkan. Jika pada tulah pertama dan kedua para ahli sihir Mesir bisa meniru menggunakan mantra mereka, kini mereka tidak mampu. Mereka menyadari bahwa ini bukanlah hasil dari mantra, melainkan perbuatan ilahi. Pada tulah-tulah berikutnya, kedahsyatan semakin meningkat.

Alkitab menunjukkan bahwa saat Allah memberi hukuman dan manusia tidak mau bertobat, Allah akan meningkatkan hukumannya. Hal ini juga berlaku bagi umat-Nya. Dalam kitab Imamat, kita membaca bahwa jika umat terus mengabaikan peringatan dan tidak bertobat, Allah akan menghajar mereka dengan lebih keras hingga tujuh kali lipat, dan peringatan ini disebutkan empat kali (lihat Im. 26:18, 21, 24, 28).

Allah memberikan hukuman sebagai panggilan untuk bertobat. Jadi, jika kita mendapat hukuman, segeralah bertobat! Jangan sampai hukuman menjadi lebih berat karena kita bersikeras seperti Firaun.

Melalui kasih-Nya, Allah menghukum kita yang berdosa. Semoga kita memiliki hati yang siap untuk bertobat dan berusaha menaati Allah.

Share:

Pujian Ibadah Minggu 13 Oktober 2024

Share:

Kedaulatan Allah dan Dosa Manusia

Keluaran 8:1-15

Berkali-kali Allah berfirman bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun (lihat Kel. 4:21, 7:3, 9:12, 10:1, 20). Di sisi lain, Alkitab juga mencatat bahwa Firaun mengeraskan hatinya sendiri (lihat Kel. 7:13, 9:35, 8:15, 32, 9:34). Bagaimana kita memahami kedua hal ini?

Ketika membaca Alkitab, kita perlu memahami konsep paradoks, yaitu dua hal yang tampak bertentangan, tetapi sebenarnya tidak.

Tulah kedua adalah ketika Allah, melalui Harun, mendatangkan begitu banyak katak hingga menutupi seluruh tanah Mesir (5-6). Firaun kemudian memanggil Musa dan Harun, dan berkata, "Mohonlah kepada TUHAN agar Ia menyingkirkan katak-katak ini dari diriku dan rakyatku, maka aku akan membiarkan bangsa itu pergi mempersembahkan kurban kepada TUHAN" (8). Musa pun berdoa, dan benar, katak-katak itu mati di rumah, di halaman, dan di ladang (9-13). "Namun, ketika Firaun melihat keadaan membaik, ia kembali mengeraskan hatinya dan tidak mau mendengarkan mereka, seperti yang telah difirmankan TUHAN" (15).

Perhatikan pada ayat 15 dikatakan bahwa Firaun "mengeraskan hatinya", tetapi itu juga adalah seperti yang sudah Allah firmankan, bahwa "TUHAN akan mengeraskan hati Firaun". Kedua hal ini tidak bertentangan, melainkan merupakan paradoks. Jadi, kita dapat memahami bahwa saat Allah dikatakan mengeraskan hati Firaun, itu berarti Allah membiarkan Firaun untuk tetap keras hati.

Sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang benar (lihat Rm. 3:10-12), dan Firaun pasti akan tetap mengeraskan hatinya jika Allah tidak melembutkannya. Istilah "TUHAN mengeraskan hati Firaun" menunjukkan bahwa keputusan akhir untuk melembutkan hati atau membiarkan hati tetap keras ada sepenuhnya di tangan Allah. Ini berarti bahwa Firaun tidak menerima berkat atau persetujuan dari Allah. Firaun bersalah karena mengeraskan hatinya dan tidak menepati janjinya. Dengan demikian, meskipun Allah berdaulat atas hidup manusia, dosa tetap menjadi tanggung jawab manusia itu sendiri.

Share:

Tuhan Memelihara Kehidupan

Keluaran 7:14-25

Perang pada zaman kuno tidak hanya terjadi antara kerajaan, tetapi lebih merupakan konflik antar dewa. Oleh karena itu, adalah wajar jika sepuluh tulah ditujukan sebagai hukuman terhadap "semua ilah di Mesir" (Kel. 12:12).

Tuhan memerintahkan Musa untuk menemui Firaun di pagi hari, saat Firaun biasa pergi ke Sungai Nil dan menunggu di tepi sungai (14-15). Ketika Firaun menolak untuk membebaskan orang Israel, Tuhan menunjukkan jati diri-Nya dengan mengubah air Sungai Nil menjadi darah (17). "Ikan di Sungai Nil akan mati, dan sungai itu akan berbau busuk, sehingga orang Mesir tidak dapat minum air dari Sungai Nil ini" (18).

Mengapa tulah pertama ditujukan kepada Sungai Nil? Apakah ini dimaksudkan untuk menyerang dewa Sungai Nil, ataukah sebagai balasan Tuhan terhadap bayi laki-laki yang dibuang ke sungai saat kelahiran Musa?

Dewa sungai sering dianggap memiliki peran penting karena sungai adalah sumber air minum. Pentingnya dewa Sungai Nil bagi Firaun dan orang Mesir terlihat dari kebiasaan Firaun yang setiap pagi pergi ke Sungai Nil (14-15, 8:20). Dalam konteks penyeberangan Sungai Yordan, kita juga perlu memahami bahwa Allah mengalahkan dewa Sungai Yordan, yang membuat semua raja Kanaan merasa ketakutan (bdk. Yos. 5:1). Melalui tulah pertama ini, Tuhan ingin menunjukkan bahwa yang memberikan air untuk manusia bukanlah dewa sungai, tetapi TUHAN, Allah Israel. Kita tentu menyadari bahwa air adalah elemen yang sangat penting untuk kehidupan semua makhluk di bumi. Inti dari tulah pertama ini mengajarkan kita bahwa hanya TUHAN yang dapat memberikan dan memelihara kehidupan seluruh makhluk.

Apakah kita menyadari bahwa jika bukan karena Allah yang menyediakan segalanya, termasuk air dan oksigen, kita tidak akan bisa bertahan hidup di bumi? Mari kita bersyukur dan menghargai semua yang telah Allah berikan untuk keberlangsungan hidup kita. Jangan anggap remeh keberadaan air dan oksigen!


Pagi ini, mari kita memohonkan berkat kepada TUHAN untuk Bapak, Ibu, serta saudara-saudari sekalian. Semoga berkat kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera mengalir dalam hidup kita semua.

Kiranya rumah tangga, anak-anak, dan cucu-cucumu diberkati. Begitu juga pekerjaanmu, sawah dan ladangmu, usahamu, studi, toko, kantor, rekan bisnis, pelanggan, rumah, keluarga, pelayanan, gereja, majikan, dan calon pendampingmu.

Dalam nama TUHAN YESUS, biarlah berkat-Mu tercurah berlimpah dalam kehidupan kami. Yang percaya, katakan AMIN! TUHAN YESUS memberkati.

Share:

Misi Penginjilan di Mesir

Keluaran 6:28-7:13

Kisah sepuluh tulah di Mesir memperlihatkan bahwa misi penginjilan telah dimulai jauh sebelum kedatangan Yesus. Bahkan dalam Perjanjian Lama, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya kepada bangsa-bangsa lain. TUHAN mengeraskan hati Firaun dan memberikan sepuluh tulah dengan tujuan yang jelas: agar orang Mesir, serta seluruh dunia, mengenal siapa TUHAN yang sesungguhnya.

Dengan "mengeraskan hati Firaun," TUHAN memberikan kesempatan kepada orang Mesir untuk menyaksikan keajaiban-keajaiban yang hanya bisa dilakukan oleh Allah yang benar. Jika Firaun langsung membiarkan umat Israel pergi, mereka mungkin tidak akan menyaksikan tanda-tanda dan mukjizat tersebut. Tulah-tulah itu menjadi cara Allah menyatakan kemahakuasaan-Nya dan memperkenalkan diri-Nya sebagai Yahweh, Allah Israel. Dalam prosesnya, Dia ingin agar bangsa Mesir mengenal-Nya dengan erat, bukan sekadar mengetahui tentang-Nya dari kejauhan. Penggunaan kata "mengetahui" atau 'yada' menunjukkan bahwa tujuan TUHAN adalah membangun relasi, sebuah pengenalan yang mendalam.

Lebih dari sekadar membebaskan umat Israel dari perbudakan, misi sepuluh tulah juga menunjukkan bahwa Allah ingin menyelamatkan umat manusia, termasuk orang Mesir. Bukti dari dampak misi ini terlihat ketika orang Israel akhirnya keluar dari Mesir. Mereka tidak pergi sendiri, melainkan bersama-sama dengan orang dari berbagai bangsa lain yang turut percaya kepada TUHAN (Kel. 12:38). Ini menunjukkan bahwa misi Allah untuk menyelamatkan dan menarik orang kepada-Nya sudah berlaku sejak awal, melibatkan bukan hanya Israel, tetapi juga bangsa-bangsa lain.

Dalam konteks masa kini, ini mengingatkan kita akan pentingnya misi penginjilan. Kita dipanggil untuk melanjutkan amanat agung Yesus Kristus, membawa kabar keselamatan kepada semua orang, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata yang mencerminkan kasih dan kekuasaan Allah. Mari kita menjalankan misi penginjilan ini dengan setia, seperti yang telah Allah lakukan sejak masa lalu, sehingga lebih banyak orang dapat mengenal dan berhubungan erat dengan-Nya.

Pagi ini, kita memohon berkat dari TUHAN bagi Bapak, Ibu, dan semua jemaat serta saudara-saudari. Semoga berkat kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera melimpah dalam hidup kita semua.

Semoga rumah tangga Anda diberkati, begitu juga dengan anak-anak dan cucu-cucu Anda. Semoga berkat tercurah atas pekerjaan Anda, sawah dan ladang Anda, perusahaan, studi, toko, usaha, kantor, pelanggan, rumah, keluarga, pelayanan, gereja, majikan, dan calon pendamping Anda.

Dalam nama TUHAN YESUS, biarlah berkat-Nya melimpah dalam hidup kami. Yang percaya, katakan AMIN! TUHAN YESUS memberkati.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.