Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Doa sebagai Ganti Sungut-sungut

Keluaran 15:22-27

Sungut-sungut adalah reaksi umum ketika manusia merasa frustrasi, kecewa, atau tidak puas dengan situasi. Namun, alih-alih menjadi solusi, sungut-sungut sering kali memperburuk suasana hati dan hubungan dengan orang lain. Dalam kisah perjalanan umat Israel di Padang Gurun Syur, kita melihat bagaimana Allah mengajarkan umat-Nya untuk mengatasi kebiasaan buruk ini.

Pelajaran dari Kisah di Mara

  1. Kondisi yang Memicu Sungut-sungut
    Setelah tiga hari berjalan tanpa menemukan air, umat Israel akhirnya tiba di Mara. Namun, air di sana tidak bisa diminum karena rasanya pahit. Situasi ini memicu ketidakpuasan mereka, dan mereka pun bersungut-sungut kepada Musa (Kel. 15:22-24).

  2. Respons Musa: Doa kepada Tuhan
    Ketika menghadapi sungut-sungut umat, Musa tidak ikut terbawa emosi atau membalas dengan kemarahan. Sebaliknya, ia memilih untuk berseru kepada Tuhan. Respons ini menghasilkan mukjizat: Allah menunjukkan sepotong kayu yang digunakan Musa untuk menjadikan air itu manis dan layak diminum (Kel. 15:25a).

  3. Penyediaan dan Ujian dari Tuhan
    Allah tidak hanya memenuhi kebutuhan umat-Nya, tetapi juga memberi perintah yang jelas: mereka harus mendengarkan suara-Nya dan hidup benar di hadapan-Nya. Dengan demikian, setiap mukjizat menjadi pengingat akan kesetiaan Allah dan panggilan untuk taat (Kel. 15:25b-26).

Pelajaran untuk Kita

  1. Menghentikan Kebiasaan Bersungut-sungut
    Sungut-sungut tidak pernah menghasilkan solusi. Sebaliknya, itu memperburuk suasana hati dan menimbulkan konflik. Alih-alih bersungut-sungut, kita diajar untuk datang kepada Tuhan dengan hati yang rendah dan memohon pertolongan-Nya.

  2. Menanggapi dengan Doa
    Ketika dihadapkan dengan orang yang bersungut-sungut atau situasi yang sulit, respons terbaik adalah meniru Musa: berdoa. Doa membawa kita lebih dekat kepada Allah, yang memiliki kuasa untuk mengubah situasi dan memberikan hikmat dalam menghadapinya.

  3. Percaya pada Pemeliharaan Tuhan
    Tuhan yang menyelamatkan Israel dari Mesir adalah Tuhan yang sama yang memelihara mereka di padang gurun. Dalam situasi hidup kita, apa pun kesulitan yang dihadapi, percayalah bahwa Tuhan mampu menyediakan apa yang kita perlukan sesuai waktu-Nya.

Sungut-sungut adalah respons manusiawi, tetapi tidak membangun. Sebaliknya, doa adalah respons yang memperlihatkan iman kepada Allah. Mari kita belajar untuk mengganti keluhan dengan doa, karena hanya Tuhan yang mampu mengubah situasi menjadi lebih baik.

"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau." (Mazmur 55:23)

Doa:
Tuhan, ajar kami untuk mengganti sungut-sungut kami dengan doa. Ketika menghadapi situasi yang sulit, kiranya kami belajar untuk percaya kepada-Mu, yang selalu menyediakan apa yang kami perlukan. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Share:

Lagu Iman

Keluaran 15:1-21

Lagu memiliki daya yang kuat untuk menyentuh hati, menyatukan jiwa, dan mengekspresikan iman dengan cara yang unik. Sejak zaman Musa, umat Allah telah menggunakan lagu sebagai sarana untuk menyatakan syukur, iman, dan kesaksian mereka. Kidung Musa di tepi Laut Teberau adalah contoh nyata bagaimana musik dan syair menjadi bentuk respons yang indah terhadap karya Tuhan yang besar.

Lagu Sebagai Ungkapan Iman

  1. Pengakuan akan Tuhan sebagai Kekuatan
    Dalam nyanyian mereka, Musa dan umat Israel mengakui Tuhan sebagai sumber kekuatan dan keselamatan mereka (Kel. 15:2). Lagu itu adalah pernyataan iman yang memuliakan Allah sebagai pahlawan mereka.

  2. Kesaksian atas Karya Tuhan
    Melalui lirik-lirik mereka, umat Israel menceritakan kebesaran Allah yang telah membelah laut, menghancurkan musuh, dan melindungi umat-Nya. Lagu mereka menjadi kesaksian yang memuliakan Allah di hadapan bangsa-bangsa lain (Kel. 15:3-10).

  3. Sukacita yang Menular
    Miryam dan para perempuan mengiringi nyanyian itu dengan rebana dan tarian, mengajak semua orang untuk bersukacita dalam kemenangan Tuhan (Kel. 15:20-21). Ini menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi sarana untuk menyatukan hati umat.

Lagu sebagai Ekspresi Kita Hari Ini

Mungkin tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menciptakan lagu, tetapi kita dapat:

  • Menyanyikan lagu-lagu iman yang sudah ada: Nyanyian pujian dan penyembahan yang sesuai dengan pengalaman dan isi hati kita dapat menjadi sarana yang kuat untuk berdoa dan memuliakan Tuhan.
  • Menggunakan lagu untuk menguatkan sesama: Lagu yang kita nyanyikan tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk membangkitkan iman dan sukacita orang lain.
  • Mengubah lirik lagu menjadi kesaksian pribadi: Menyesuaikan syair dengan pengalaman hidup kita dapat membuat lagu lebih bermakna dan relevan.

Berkat melalui Musik

Melalui musik, kita diberi cara yang unik untuk mengungkapkan hal-hal yang sulit diucapkan dengan kata-kata biasa. Lagu dapat membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, mengingatkan kita akan kasih dan kuasa-Nya, serta menjadi alat untuk menyampaikan kebenaran-Nya kepada orang lain.

"Aku akan bernyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut." (Keluaran 15:1)

Marilah kita menjadikan lagu sebagai bagian dari perjalanan iman kita—sebagai alat untuk memuliakan Tuhan, bersaksi, dan mempererat persekutuan kita dengan sesama. Nyanyikanlah lagu imanmu, biarlah itu menjadi persembahan yang harum bagi Allah.

Share:

Tuhan yang Berperang

Keluaran 14:15-31

Di tengah krisis besar, umat Israel menghadapi tantangan yang tampaknya mustahil diatasi: Laut Teberau terbentang di depan mereka, sementara tentara Mesir mengejar dari belakang. Dalam situasi ini, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya sebagai pembela umat-Nya, menggambarkan bahwa Dialah "Tuhan yang berperang."

Kuasa Tuhan yang Tak Tertandingi

  1. Perlindungan Ilahi
    Tuhan menghalangi pasukan Mesir dengan tiang awan, melindungi umat-Nya dari serangan langsung (Kel. 14:19-20). Ini menunjukkan betapa Allah menjadi pelindung yang sempurna.

  2. Mukjizat Laut Terbelah
    Tuhan memerintahkan Musa untuk mengulurkan tangannya, dan laut pun terbelah. Jalan di tengah laut yang kering menjadi bukti kuasa-Nya yang tak terbatas (Kel. 14:21-22).

  3. Kekalahan Musuh
    Pasukan Mesir, dengan segala kekuatan militer mereka, tidak berdaya melawan rencana Allah. Ketika mereka mencoba mengejar, roda kereta mereka terhambat, dan akhirnya mereka tenggelam oleh air yang kembali menyatu (Kel. 14:23-28).

Pesan bagi Kita Hari Ini

Seperti Israel, kita mungkin menghadapi "lautan" dalam hidup—masalah besar yang tampaknya tak teratasi, atau musuh yang terus mengejar. Dalam momen-momen itu:

  • Berserulah kepada Tuhan: Jangan ragu meminta pertolongan-Nya. Tuhan mendengar seruan umat-Nya.
  • Percayalah kepada-Nya: Tuhan adalah pembela yang setia. Dia tidak pernah meninggalkan umat-Nya di tengah pergumulan.
  • Lihatlah karya-Nya: Ketika kita bergantung kepada-Nya, Tuhan dapat membukakan jalan di tempat yang tampaknya mustahil.

Andalkan Tuhan dalam Pertempuran Hidup

Tuhan yang berperang bagi Israel adalah Tuhan yang sama yang memerangi setiap tekanan, ketakutan, dan persoalan yang kita hadapi. Jangan biarkan tantangan hidup membuat kita kehilangan iman. Sebaliknya, jadikanlah itu sebagai kesempatan untuk mengalami kuasa-Nya secara nyata.

"TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja." (Keluaran 14:14)

Dalam keheningan iman, percayalah bahwa Tuhan sedang bekerja dan memimpin kita kepada kemenangan yang sejati. Dialah andalan kita yang setia, Sang Juru Selamat yang berperang untuk kebaikan umat-Nya.

Share:

Tuhan Mengeraskan Hati

Keluaran 14:1-14

1. Hati yang Dikeraskan oleh Allah

Ketika Firaun memutuskan untuk mengejar bangsa Israel setelah membebaskan mereka, tindakan ini bukanlah semata-mata karena emosi manusiawi. Alkitab menyatakan bahwa TUHAN mengeraskan hati Firaun (ayat 8).

Namun, pengertian ini harus dilihat dalam konteks:

  • Pilihan Firaun yang berulang kali menolak Allah: Sebelumnya, Firaun berkali-kali diberi kesempatan untuk bertobat melalui tulah-tulah di Mesir, tetapi ia terus menolak Allah (Kel. 7-11). Ketika hati manusia terus menolak kebenaran, Allah dapat membiarkan atau memperkuat pilihan tersebut demi tujuan yang lebih besar.
  • Rencana Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya: Allah mengeraskan hati Firaun bukan untuk memperdaya, tetapi untuk menyatakan kuasa-Nya atas Mesir dan meneguhkan iman Israel. Dalam hal ini, kebebalan Firaun menjadi alat dalam rencana ilahi yang lebih besar (ayat 4, 17-18).

2. Ketakutan dan Protes Israel

Ketika bangsa Israel melihat pasukan Mesir yang mendekat dengan kekuatan besar (kereta, perwira, dan tentara), mereka merasa sangat ketakutan (ayat 10). Ketakutan itu mendorong mereka untuk:

  • Memprotes Musa: Mereka menyalahkan Musa karena merasa perjalanan ini akan berakhir dengan kematian mereka di padang gurun (ayat 11-12).
  • Meragukan Allah: Meski mereka telah menyaksikan berbagai mukjizat sebelumnya, ketakutan mereka menunjukkan lemahnya iman mereka.

3. Jawaban Musa: Keyakinan pada Allah yang Berperang

Musa menguatkan bangsa Israel dengan seruan yang penuh iman:

  • "Jangan takut, berdirilah tetap, dan lihatlah keselamatan dari TUHAN" (ayat 13). Musa mengingatkan mereka bahwa keselamatan berasal dari Tuhan, bukan dari usaha manusia.
  • "TUHAN akan berperang untuk kamu" (ayat 14). Tuhanlah yang memegang kendali penuh atas situasi ini. Pasukan Mesir yang kuat tidak ada artinya di hadapan kuasa Allah.

4. Ajaran bagi Kita Hari Ini

Kisah ini mengandung pelajaran mendalam bagi kehidupan rohani kita:

  1. Hati-hati dengan kekerasan hati terhadap Allah: Seperti Firaun, ketika kita terus-menerus menolak tuntunan Allah, hati kita bisa menjadi semakin keras, menjauhkan kita dari kebenaran-Nya.
  2. Tuhan bekerja melalui tantangan: Ketika kita menghadapi masalah besar, itu bukan berarti Tuhan telah meninggalkan kita. Kadang-kadang, Ia mengizinkan kesulitan untuk memperkuat iman kita dan menyatakan kuasa-Nya.
  3. Percayalah pada janji penyelamatan-Nya: Ketika kita merasa terpojok oleh situasi, kita dipanggil untuk berdiri teguh dalam iman, percaya bahwa Tuhan akan berperang bagi kita.

5. Menanggapi dengan Iman

Ketika masalah datang, janganlah kita seperti Israel yang segera mengeluh dan meragukan Allah. Sebaliknya:

  • Berserulah kepada Allah dalam doa: Nyatakan ketakutan kita kepada-Nya, tetapi tetap percaya pada kuasa-Nya.
  • Percaya pada pimpinan Tuhan: Jalan Tuhan mungkin tampak tidak masuk akal atau sulit, tetapi itu selalu membawa kebaikan dan kemuliaan bagi-Nya.
  • Ingatlah kemenangan Tuhan yang sudah terjadi dalam hidup kita: Sama seperti Israel, kita memiliki pengalaman tentang pertolongan Tuhan di masa lalu. Gunakan itu sebagai dasar untuk iman kita hari ini.

Doa:
"Tuhan, sering kali kami takut ketika masalah datang menghimpit. Ajarlah kami untuk percaya bahwa Engkau selalu berperang bagi kami. Tolong kami untuk tidak mengeraskan hati, tetapi tetap taat dan setia kepada-Mu. Amin."

Share:

Jalan Memutar yang Aman

Keluaran 13:17-22

1. Jalan Allah yang Tidak Selalu Logis bagi Manusia

Ketika Allah menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir, Ia memilih jalur yang lebih panjang dan melelahkan, yakni melalui padang gurun, bukan jalan pintas melalui negeri Filistin (ayat 17-18). Secara manusia, keputusan ini tampak tidak masuk akal. Namun, ada alasan mendalam di baliknya:

  • Melindungi bangsa Israel dari bahaya: Jalur Filistin penuh dengan benteng Mesir, yang bisa membuat Israel gentar dan kembali ke Mesir. Allah tahu kondisi mereka yang masih lemah dan belum siap menghadapi peperangan.
  • Pendidikan rohani: Jalur padang gurun adalah tempat di mana Allah mendidik mereka untuk bergantung sepenuhnya kepada-Nya.

Keputusan Allah selalu berdasarkan hikmat-Nya yang melampaui pemahaman manusia. Ia melihat bahaya yang tidak kita lihat dan mempersiapkan jalan terbaik, meskipun tampak memutar.

2. Tanda Penyertaan Allah: Tiang Awan dan Tiang Api

Di sepanjang perjalanan melalui padang gurun, Allah tidak meninggalkan umat-Nya tanpa tuntunan. Ia hadir melalui:

  • Tiang awan: Menyertai mereka di siang hari untuk melindungi dari panas terik.
  • Tiang api: Memberi penerangan dan perlindungan di malam hari.

Kehadiran tiang awan dan tiang api adalah bukti nyata bahwa Allah berjalan bersama umat-Nya. Penyertaan-Nya adalah jaminan bahwa meski melalui jalan memutar, mereka tetap berada dalam perlindungan dan bimbingan-Nya.

3. Ajaran bagi Kita Hari Ini

Seperti bangsa Israel, kita sering kali ingin mengambil jalan tercepat dan termudah untuk mencapai tujuan hidup. Namun, Allah kadang-kadang menuntun kita melalui jalan yang lebih panjang atau sulit untuk:

  • Melindungi kita dari bahaya yang belum kita sadari.
  • Menguatkan iman dan karakter kita di tengah tantangan.
  • Membangun kebergantungan kita kepada-Nya.

Di dalam Yesus Kristus, realitas Allah dan manusia bersatu. Kristus adalah Imanuel, Allah yang hadir bersama kita, yang menuntun kita dalam setiap musim kehidupan, bahkan di tengah jalan memutar yang sulit.

4. Respon Kita

  • Percayalah pada hikmat Allah: Jangan mengandalkan pemahaman sendiri, tetapi percayalah bahwa rencana Allah selalu yang terbaik (Ams. 3:5-6).
  • Berpegang pada penyertaan-Nya: Yesus adalah tiang awan dan api dalam hidup kita. Ia berjalan bersama kita melalui setiap lembah dan gunung.
  • Jangan menyerah: Hambatan bukan akhir dari perjalanan. Tuhan yang menuntun akan membawa kita tiba di tujuan tepat pada waktu-Nya.

Doa:
"Tuhan, ajar kami untuk mempercayai tuntunan-Mu, bahkan ketika jalan-Mu terasa sulit dan memutar. Kami yakin, penyertaan-Mu dalam Kristus cukup bagi kami untuk melangkah dengan iman. Amin."

Share:

Doksologi: Mengagungkan Allah yang Bijaksana

Roma 16:25-27

1. Allah yang Bijaksana dalam Rencana Keselamatan

Paulus menutup Surat Roma dengan doksologi yang mengarahkan kemuliaan kepada Allah. Ia menyebut Allah sebagai satu-satunya yang bijaksana, karena kebijaksanaan-Nya tampak nyata dalam Injil keselamatan:

  • Injil bagi semua bangsa. Awalnya rahasia keselamatan hanya tampak samar melalui nubuat para nabi dan hukum Taurat. Namun, melalui Yesus Kristus, Allah menyatakan rencana keselamatan itu secara jelas kepada Israel dan bangsa-bangsa non-Yahudi (ayat 26).
  • Hikmat Allah dalam Kristus. Kebijaksanaan Allah terlihat dalam bagaimana Ia menggenapi janji keselamatan-Nya dengan cara yang tidak terpahami oleh manusia: melalui salib Kristus (lih. Rm. 11:33-36).

2. Yesus Kristus sebagai Sentralitas Injil

Yesus Kristus adalah pusat dari rencana keselamatan Allah:

  • Jalan pendamaian: Yesus adalah jalan satu-satunya yang mendamaikan manusia dengan Allah (Rm. 3:25).
  • Pemberi damai: Melalui Yesus, kita menerima damai sejahtera dengan Allah (Rm. 5:1).
  • Hidup baru dan kemenangan: Dalam Yesus, kita menerima hidup baru (Rm. 6:4), kelepasan dari maut (Rm. 7:24-25), dan janji kebangkitan (Rm. 8:11).

Melalui Kristus, Allah telah membuka jalan keselamatan bagi semua orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi (Rm. 9:24-26).

3. Respon Kita: Memuliakan Allah dalam Hidup

Paulus mengajak jemaat Roma untuk bersama-sama memuliakan Allah yang bijaksana. Respon itu juga berlaku bagi kita hari ini:

  • Mengakui karya Allah: Allah menggunakan berbagai cara untuk menuntun kita kepada Kristus, baik melalui Alkitab, pengalaman hidup, maupun orang-orang di sekitar kita.
  • Mengenang transformasi hidup: Jika kita melihat perubahan hidup kita dari masa lalu hingga kini, kita akan mendapati bahwa itu adalah karya Kristus semata.

Doksologi adalah ungkapan syukur dan pengakuan atas kebesaran Allah. Kita menyanyikannya dengan kesadaran penuh bahwa segala kemuliaan hanya layak bagi Allah melalui Yesus Kristus.

4. Refleksi: "Segala Kemuliaan Bagi Allah"
Mari kita renungkan:

  • Bagaimana Allah telah menyatakan diri-Nya dalam hidup kita?
  • Sejauh mana kita memuliakan Allah dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan?

Doa:
"Bagi-Mu, ya Allah yang bijaksana, segala kemuliaan sampai selama-lamanya melalui Yesus Kristus. Amin."

Share:

Pujian Ibadah Minggu 1 Desember 2024

Share:

Dewasa Secara Rohani

Roma 16:17-20

1. Waspada terhadap Pengajaran Palsu

Paulus memberikan peringatan tegas kepada jemaat di Roma untuk mewaspadai orang-orang yang membawa ajaran yang menimbulkan perpecahan dan kejatuhan. Mereka yang seperti ini, menurut Paulus, tidak melayani Kristus tetapi melayani kepentingan diri sendiri (ayat 18).

Pengajaran palsu seringkali:

  • Memecah belah jemaat.
  • Membuat orang tersandung dalam iman.
  • Memanfaatkan jemaat demi keuntungan pribadi.

Paulus menasihati agar jemaat tetap bijaksana untuk membedakan mana yang baik dan benar, serta menjaga integritas iman (ayat 19).

2. Tanda Kedewasaan Rohani

Kedewasaan rohani adalah kemampuan untuk tetap teguh dalam iman meskipun dihadapkan dengan berbagai pengaruh negatif. Jemaat yang dewasa secara rohani tidak terombang-ambing oleh:

  • Figur yang populer tetapi menyimpang dari kebenaran.
  • Aksi spektakuler yang bertujuan memanipulasi emosi.
  • Kata-kata hebat yang bertujuan menonjolkan diri.

Sebaliknya, jemaat yang dewasa akan:

  • Memusatkan hidup pada Firman Tuhan.
  • Mengamati perilaku pengajar untuk melihat kerendahan hati dan ketaatan kepada Allah.
  • Berani meninggalkan dan menentang ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran.

3. Membangun Kedewasaan Rohani

a. Pengenalan akan Kristus sebagai Dasar:
Kedewasaan rohani tumbuh melalui pengenalan yang mendalam akan Kristus. Jemaat yang bersatu dalam iman kepada Kristus tidak mudah terombang-ambing oleh pengajaran palsu (lih. Ef. 4:13-15).

b. Bijaksana dan Waspada:
Menjadi bijaksana berarti memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jahat (ayat 19). Ini hanya mungkin terjadi jika kita memiliki pemahaman yang kuat tentang Firman Allah.

c. Mempraktikkan Kebenaran:
Orang yang dewasa rohani tidak hanya tahu, tetapi juga hidup menurut kebenaran Firman Tuhan. Ia membangun hidupnya berdasarkan kasih, kerendahan hati, dan ketaatan kepada Allah.

4. Refleksi: Sudahkah Kita Dewasa Secara Rohani?

  • Apakah kita mampu mengenali pengajaran palsu?
  • Apakah kita fokus pada kebenaran Firman Tuhan, atau justru terbuai oleh kepopuleran figur tertentu?
  • Apakah kita berani menolak ajaran yang bertentangan dengan Alkitab, meskipun itu tidak populer?

Kedewasaan rohani adalah perjalanan, bukan tujuan akhir. Mari terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus, hidup dalam kebenaran-Nya, dan menjaga keutuhan tubuh Kristus dari ajaran yang memecah belah.

Doa:
Tuhan, berikan kami hikmat dan pengertian untuk membedakan ajaran yang benar dari yang salah. Tuntun kami untuk hidup setia pada Firman-Mu dan menjadi jemaat yang dewasa secara rohani. Teguhkan hati kami untuk melawan arus ketika diperlukan, dan pakailah kami untuk memuliakan nama-Mu. Amin.

Share:

Harmoni dalam Bakti

Roma 16:1-16

1. Relasi yang Didasari oleh Kristus

Dalam salam penutup Surat Roma, Paulus menunjukkan perhatian dan penghargaan kepada setidaknya 24 orang yang disebutkan namanya. Setiap nama disertai sebutan atau pujian yang mencerminkan hubungan mereka dengan Paulus dan pelayanan mereka bagi Kristus.

a. Keterhubungan dalam Pelayanan:
Paulus menggambarkan relasi mereka sebagai lebih dari sekadar rekan kerja. Ia menyebut mereka sebagai:

  • "Pelayan jemaat" (ayat 1) seperti Febe yang melayani jemaat di Kengkrea.
  • "Teman sekerja" (ayat 3), seperti Priskila dan Akwila yang mempertaruhkan nyawa mereka demi Paulus.
  • "Buah pertama" (ayat 5), seperti Epenetus, orang pertama di wilayah Asia yang bertobat.
  • "Orang-orang yang terpandang di antara para rasul" (ayat 7), seperti Andronikus dan Yunias, yang memiliki pengaruh besar.

b. Penghargaan terhadap Perjuangan:
Paulus menyampaikan pujian tulus, seperti:

  • "Memberi banyak bantuan" (ayat 2).
  • "Bekerja sangat keras" (ayat 6).
  • "Yang pernah dipenjarakan" (ayat 7).

Paulus menghormati pengorbanan mereka. Mereka dihargai bukan karena status, tetapi karena kesetiaan mereka kepada Injil Kristus.

2. Harmoni yang Berakar pada Kasih Kristus

Harmoni dalam pelayanan tercipta ketika hubungan didasarkan pada apa yang Kristus telah lakukan bagi kita di atas salib-Nya. Kasih Kristus mempersatukan mereka yang berbeda latar belakang, status, dan budaya menjadi satu tubuh yang bekerja bersama bagi Injil.

Pelajaran bagi Kita:

  • Relasi yang Berpusat pada Kristus: Saat melayani, ingatlah bahwa kita adalah teman sekerja di ladang Tuhan, dipersatukan untuk tujuan yang lebih besar.
  • Memuliakan Tuhan dalam Relasi: Harmoni akan melahirkan pelayanan yang lebih kuat dan menjadi kesaksian bagi dunia.

3. Menumbuhkan Harmoni dalam Pelayanan

a. Tidak Mementingkan Diri Sendiri:

  • Jangan menganggap diri sebagai yang paling penting atau senior.
  • Tumbuhkan kerendahan hati untuk menghormati sesama pelayan Kristus.

b. Menjaga Tutur Kata dan Sikap:

  • Ucapkan kata-kata yang menguatkan dan membangkitkan semangat.
  • Hindari komentar yang merendahkan atau memecah belah.

c. Menghargai dan Mendukung Sesama Pelayan:

  • Teguhkan orang lain dengan doa dan kata-kata pujian.
  • Pedulikan perjuangan mereka, seperti Paulus yang menghargai risiko dan pengorbanan teman-teman sekerjanya.

4. Refleksi dan Aplikasi

  • Apakah relasi kita dalam pelayanan mencerminkan kasih Kristus?
  • Apakah kita mendukung dan menghargai teman sekerja, atau justru menonjolkan diri sendiri?

Mari kita membangun harmoni dalam pelayanan dengan kerendahan hati, saling menghargai, dan menumbuhkan kasih Kristus. Harmoni ini bukan hanya membawa sukacita, tetapi juga menjadi kesaksian yang nyata bagi dunia tentang kekuatan kasih Kristus.

Doa:
Tuhan, ajar kami untuk melayani dalam harmoni dan kasih. Berikan kami hati yang rendah hati dan penuh syukur agar kami dapat menghargai dan mendukung sesama pelayan-Mu. Jadikan pelayanan kami kesaksian yang memuliakan nama-Mu. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.