Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Too Good to Be True ( Ketika Harapan Terlihat Mustahil )

(Lukas 1:5-25)

Ada kalanya kita merasa bahwa sesuatu yang luar biasa baik, terlalu mustahil untuk menjadi nyata. Inilah yang dialami Zakharia, seorang imam yang hidup benar di hadapan Allah bersama istrinya, Elisabet. Meskipun mereka berdua menjalani kehidupan yang saleh, mereka menghadapi kenyataan pahit: mereka tidak memiliki anak, dan Elisabet dianggap mandul (ayat 6-7).

Namun, harapan tetap ada. Dalam situasi ini, Zakharia menerima kabar luar biasa dari malaikat Tuhan bahwa Elisabet akan mengandung seorang anak yang akan membawa sukacita besar, bukan hanya bagi mereka, tetapi bagi banyak orang (ayat 13-14).

Pelajaran dari Zakharia: Ketika Rencana Tuhan Diungkapkan

  1. Rencana Tuhan Lebih Besar daripada Keterbatasan Kita

    • Zakharia merasa mustahil untuk memiliki anak pada usia tua (ayat 18).
    • Namun, rencana Tuhan tidak tergantung pada kemampuan atau kondisi manusia. Tuhan berkuasa melampaui segala hambatan fisik dan batasan logis kita.
  2. Ketidakpercayaan Manusia Tidak Mengubah Rencana Tuhan

    • Meskipun Zakharia meragukan berita malaikat, hal itu tidak membatalkan rencana Allah. Sebaliknya, Zakharia diberi tanda melalui kebisuan hingga penggenapan janji Allah terjadi (ayat 19-20).
    • Ini mengingatkan kita bahwa iman kita adalah respons, tetapi rencana Tuhan tetap berjalan sesuai kehendak-Nya.
  3. Pengharapan: Menanti dalam Kesabaran

    • Zakharia dan Elisabet sudah lama menanti kehadiran anak, bahkan mungkin sempat kehilangan harapan. Namun, Tuhan bekerja pada waktu-Nya yang sempurna.
    • Hal ini mengajarkan kita bahwa pengharapan sejati bukan sekadar menunggu sesuatu terjadi, tetapi menyerahkan sepenuhnya kepada waktu dan cara Tuhan.

Keindahan dalam Rancangan Tuhan

  • Waktu Tuhan adalah yang Terbaik
    Kehidupan Zakharia dan Elisabet menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah terlambat. Anak yang lahir dari mereka, Yohanes Pembaptis, memiliki peran penting dalam rencana keselamatan Allah.

  • Berserah dalam Segala Hal
    Harapan kita harus selalu disertai sikap berserah. Jika Tuhan mengabulkan doa kita, puji Tuhan. Jika tidak, percayalah bahwa Dia sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita.


Aplikasi bagi Hidup Kita

  1. Percayalah pada Janji Tuhan
    Ketika sesuatu terasa "terlalu baik untuk menjadi kenyataan," ingatlah bahwa Allah berkuasa melakukan hal yang tidak kita bayangkan.

  2. Tetaplah Berharap
    Jangan pernah kehilangan pengharapan, meskipun jawaban doa tampak tertunda. Tuhan selalu bekerja dengan cara dan waktu-Nya.

  3. Syukur dan Berserah
    Belajarlah untuk berkata, "It is good and it is true" — baik dan sungguh terjadi, ketika melihat karya Tuhan dalam hidup kita, baik melalui penggenapan harapan maupun melalui hal-hal lain yang lebih indah dari rencana kita.

Doa:
Tuhan, ajarilah kami untuk tetap berharap kepada-Mu di tengah segala keterbatasan dan ketidakpastian hidup. Berikan kami iman untuk percaya bahwa rencana-Mu selalu indah, dan hati yang rela berserah pada kehendak-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Share:

 Saring Sebelum Sharing

Frasa "saring sebelum sharing" mengingatkan kita untuk berhati-hati sebelum membagikan informasi. Ini sangat relevan di era digital, di mana menyebarkan berita semudah menggerakkan jari-jemari. Namun, kemudahan ini membawa risiko besar jika informasi yang dibagikan belum teruji kebenarannya.

Teladan Lukas: Cermat dan Teliti
Dalam Injilnya, Lukas menunjukkan pentingnya penyelidikan yang teliti. Meski banyak tulisan tentang Yesus sudah beredar, Lukas tetap melakukan penyelidikan saksama untuk memastikan keabsahan berita yang disampaikannya (Luk. 1:1-4). Ia mengumpulkan fakta dari sumber yang terpercaya dan menyusunnya secara teratur. Tujuannya jelas: memberikan informasi yang dapat dipercaya.

Hoaks di Masa Kini
Dalam konteks modern, kita dihadapkan pada berbagai jenis hoaks:

  1. Misinformasi – Informasi salah yang disebarkan tanpa sengaja.
  2. Disinformasi – Informasi salah yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.
  3. Malinformasi – Informasi benar yang disajikan untuk merugikan pihak lain.

Ketiganya dapat merusak hubungan antarindividu dan kepercayaan dalam masyarakat.

Prinsip Kehati-hatian
Seperti Lukas, kita perlu menyaring setiap informasi dengan teliti sebelum menyebarkannya. Beberapa langkah yang bisa kita terapkan:

  1. Periksa sumber informasi – Pastikan sumbernya terpercaya dan bukan anonim.
  2. Cek fakta – Gunakan platform pemeriksa fakta jika ragu akan suatu informasi.
  3. Jangan terburu-buru – Hindari bereaksi emosional terhadap informasi yang memancing kemarahan atau kegembiraan berlebih.
  4. Berpikir kritis – Tanyakan, "Apakah informasi ini benar, relevan, dan bermanfaat untuk dibagikan?"

Kesimpulan
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menyuarakan kebenaran dan menjadi pembawa damai. Jangan biarkan mulut atau jari kita dipakai untuk menyebarkan kebohongan, tetapi gunakanlah untuk menyampaikan hal-hal yang membangun iman dan kebenaran.

Mari kita meneladani sikap teliti Lukas dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyaring sebelum sharing, kita dapat menjaga integritas diri dan menjadi berkat bagi sesama. Tuhan memberkati!

Share:

Hukum untuk Kesejahteraan Umat

(Keluaran 21:12-36)

Konflik dalam relasi antar umat Allah sering terjadi karena dosa manusia. Untuk menjaga keharmonisan hidup bersama, Allah memberikan hukum-hukum yang menjamin kesejahteraan umat, salah satunya adalah prinsip keadilan yang dikenal dengan istilah "mata ganti mata, gigi ganti gigi" (ayat 24). Prinsip ini tidak dimaksudkan untuk membalas dendam, melainkan memastikan hukuman yang setimpal dengan pelanggaran.

Keadilan Allah dalam Hukum

1. Hukuman untuk pembunuhan

Tidak disengaja: Pelaku diberi tempat perlindungan, sebagai bentuk kasih Allah (ayat 12-13).

Direncanakan: Pelaku harus dihukum mati (ayat 14).



2. Dosa berat yang dihukum mati

Memukul atau mengutuk orang tua (ayat 15, 17).

Menculik orang untuk dijual sebagai budak (ayat 16).



3. Ganti rugi untuk dosa yang merugikan orang lain

Memukul dan melukai sesama (ayat 18-19).

Menyakiti budak atau perempuan hamil (ayat 20-27).

Kelalaian yang menyebabkan orang lain terluka oleh ternak (ayat 28-36).




Prinsip dalam Perjanjian Baru
Hukum "mata ganti mata" tetap relevan dalam konsep "hukum tabur tuai." Yesus tidak menentang keadilan, tetapi menentang penyalahgunaan hukum ini untuk membalas dendam. Dalam Matius 5:38-42, Yesus mengajarkan agar kita membalas kejahatan dengan kebaikan. Hal ini sejalan dengan prinsip kasih: menabur kebaikan akan menuai kesejahteraan (lih. Mat 7:12).

Refleksi untuk Kita
Keadilan Allah yang sempurna menegaskan pentingnya menghormati hukum dan mempraktikkan kasih. Kita diajak untuk:

Tidak membalas dendam dengan amarah.

Menegakkan keadilan sesuai firman Tuhan.

Memperlakukan sesama dengan tindakan kasih yang membangun.


Doa Berkat
Bapa yang adil, kami bersyukur atas hukum-Mu yang mendidik kami untuk hidup dalam kasih dan keadilan. Kami berdoa untuk setiap saudara seiman, keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kami. Kiranya berkat-Mu melimpah atas kami semua:

Berkat kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera.

Berkat atas rumah tangga, anak-anak, dan cucu-cucu kami.

Berkat atas pekerjaan, usaha, studi, dan segala aktivitas kami.


Dalam nama Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau menyertai dan memberkati kami sepanjang hidup kami.
Amin.

Tuhan Yesus memberkati!

Share:

Hukum untuk Membatasi

(Keluaran 21:1-11)

Perjanjian Lama memuat berbagai hukum, termasuk hukum restriktif yang bertujuan membatasi praktik-praktik tidak manusiawi di tengah kebebalan umat manusia. Salah satu contoh hukum restriktif adalah pengaturan tentang perbudakan. Dalam masyarakat kuno, perbudakan adalah praktik yang umum terjadi, dan tanpa pengaturan, hal ini dapat berkembang menjadi tindakan yang sangat tidak manusiawi.

Hukum perbudakan yang diberikan Allah melalui Musa bertujuan untuk mengatur dan membatasi perilaku masyarakat agar lebih manusiawi:

1. Budak Ibrani harus dibebaskan setelah enam tahun (ayat 2). Hal ini memberikan harapan dan keadilan bagi mereka, sesuatu yang tidak berlaku di bangsa lain.


2. Pengaturan tentang keluarga budak (ayat 3-6) menunjukkan perhatian Allah terhadap hubungan dan pilihan hidup budak tersebut. Jika seorang budak memilih untuk tetap tinggal karena cinta kepada keluarganya, ia dapat melakukannya dengan sukarela.


3. Perlindungan untuk budak perempuan (ayat 7-11). Budak perempuan tidak diperlakukan seperti barang yang dapat diperlakukan semena-mena. Jika statusnya berubah menjadi istri, ia harus diperlakukan dengan penuh tanggung jawab, atau ia berhak untuk bebas tanpa syarat.



Hukum-hukum ini menunjukkan bahwa Allah tidak menyetujui perbudakan, tetapi Dia memberikan pembatasan agar keadilan dan kemanusiaan tetap terjaga di tengah realitas dunia yang penuh dosa.

Mengapa Allah Memberikan Hukum Restriktif?
Allah tahu bahwa hati manusia sering keras dan memberontak. Maka, hukum seperti ini dibuat untuk mencegah manusia bertindak lebih jauh dalam dosa mereka. Sebagai umat-Nya, kita diajak untuk melihat hukum-hukum ini sebagai cerminan kasih dan keadilan Allah yang mengutamakan kesejahteraan bagi semua pihak.

Refleksi bagi Kita Saat Ini
Meski zaman telah berubah, prinsip kasih dan keadilan Allah tetap relevan. Kita dipanggil untuk mempraktikkan kasih terhadap sesama, bahkan di tengah situasi sulit. Dalam semua tindakan, mari kita utamakan kasih dan perlakuan manusiawi, seperti yang diajarkan oleh firman Tuhan.

Doa Berkat
Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajarkan kami tentang keadilan dan kasih. Kami berdoa untuk setiap jemaat-Mu, keluarga, pekerjaan, dan usaha yang mereka lakukan. Biarlah kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera melimpah dalam hidup kami.

Kiranya rumah tangga kami diberkati, anak-anak dan cucu-cucu kami diberi hikmat dan perlindungan, serta usaha kami diberi keberhasilan. Dalam pelayanan kami, biarlah nama-Mu dimuliakan. Kami percaya bahwa berkat-Mu akan selalu menyertai kami.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa dan mengucap syukur.
Amin.

Tuhan Yesus memberkati!

Share:

Kekudusan TUHAN yang Dahsyat

Keluaran 20:18-26

Allah bukan hanya Maha Pengasih tetapi juga Mahakudus, dan kekudusan-Nya adalah atribut yang dahsyat dan tak terjangkau oleh manusia berdosa. Hal ini terlihat dengan jelas ketika TUHAN menampakkan diri di Gunung Sinai. Umat Israel menyaksikan manifestasi kehadiran-Nya melalui guruh, kilat, sangkakala yang nyaring, dan gunung yang penuh asap. Reaksi mereka adalah ketakutan yang mendalam sehingga mereka menjauh dan meminta agar Allah berbicara melalui Musa, bukan langsung kepada mereka (Kel. 20:18-19).

Takut kepada kekudusan Allah adalah respons yang wajar. Sebagai manusia berdosa, kita tidak sanggup berdiri di hadapan Allah yang kudus. Bahkan, makhluk surgawi seperti serafim pun menutupi wajah mereka ketika berada di hadirat Allah, meskipun mereka tidak berdosa (Yes. 6:2).

Kekudusan Allah adalah inti dari keberadaan-Nya dan ditekankan berulang kali dalam Alkitab. Sifat ini menjadi atribut yang dipuji tiga kali berturut-turut oleh serafim: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN Semesta Alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!" (Yes. 6:3). Kekudusan-Nya menunjukkan bahwa Allah adalah murni, sempurna, dan sepenuhnya terpisah dari dosa.

Namun, kekudusan Allah juga membawa konsekuensi serius bagi manusia. Nadab dan Abihu, misalnya, dihukum TUHAN karena mempersembahkan api yang tidak diperintahkan-Nya (Im. 10:1-3). Bahkan Musa, pemimpin pilihan Allah, tidak luput dari teguran ketika ia tidak menghormati kekudusan Allah saat memukul batu untuk mengeluarkan air (Bil. 20:11-12).

Kesadaran akan kekudusan Allah harus mendorong kita untuk hidup dalam kekudusan dan hormat kepada-Nya. Kekudusan TUHAN tidak dapat dianggap enteng, dan setiap pelanggaran terhadap-Nya akan mendatangkan konsekuensi yang berat.

Kita dipanggil untuk tidak hanya mengasihi Allah karena kasih-Nya, tetapi juga menghormati dan takut kepada-Nya karena kekudusan-Nya. Marilah kita berupaya hidup kudus, menyadari bahwa Allah yang kita sembah adalah kudus adanya, dan hormat kepada-Nya harus tercermin dalam setiap aspek hidup kita. Sebab seperti firman-Nya, "Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus" (Im. 19:2)

Share:

Cara Mengasihi Sesama

Keluaran 20:12-17

Sepuluh Hukum Allah menegaskan bahwa kasih kepada Allah harus diwujudkan dengan kasih kepada sesama manusia. Ini menunjukkan bahwa iman kita yang benar tercermin dalam hubungan baik dengan orang-orang di sekitar kita.

  1. Menghormati Orang Tua
    Hukum kelima mengingatkan kita untuk menghormati orang tua, termasuk merawat mereka saat mereka lanjut usia (Kel. 20:12; bdk. Mat. 15:3-6). Ini juga berlaku untuk semua otoritas yang Allah tetapkan dalam hidup kita, seperti pemimpin gereja, atasan, dan pemerintah (Rm. 13:1-5).

  2. Mengupayakan Perdamaian
    Hukum keenam melarang pembunuhan (Kel. 20:13). Namun, Yesus memperluas pengertian ini, dengan mengatakan bahwa kemarahan tanpa alasan juga melanggar hukum ini (Mat. 5:21-23). Kita dipanggil untuk mengupayakan perdamaian dalam setiap hubungan kita.

  3. Kesetiaan dalam Perkawinan
    Hukum ketujuh melarang perzinaan (Kel. 20:14), mengajarkan kita untuk setia kepada pasangan. Bahkan, Yesus mengingatkan bahwa keinginan yang tidak benar terhadap orang lain sudah termasuk pelanggaran hukum ini (Mat. 5:27-30).

  4. Menolong Sesama
    Hukum kedelapan bukan hanya melarang pencurian (Kel. 20:15) tetapi juga mendorong kita untuk membantu sesama yang membutuhkan. Firman Tuhan memberi banyak contoh, seperti memberi dari hasil panen kepada orang miskin (Im. 23:22) dan menolong orang yang terluka (Luk. 10:25-37).

  5. Berkata Benar
    Hukum kesembilan mengajar kita untuk tidak bersaksi dusta (Kel. 20:16). Perkataan yang melukai, termasuk gosip dan hoaks, merusak kasih terhadap sesama. Sebaliknya, kita dipanggil untuk memakai perkataan kita untuk membangun dan memberkati.

  6. Menghargai dan Mensyukuri Berkat
    Hukum kesepuluh melarang keinginan terhadap milik orang lain (Kel. 20:17). Kita diajarkan untuk menjaga hati dari iri hati dan belajar bersyukur atas berkat yang telah Tuhan berikan.

Kasih kepada sesama adalah bukti nyata kasih kita kepada Allah. Ketika kita mengasihi dengan tindakan konkret seperti yang diajarkan dalam Sepuluh Hukum, kita memuliakan Allah dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Semoga Allah memampukan kita untuk mengasihi dengan tulus setiap hari.

Share:

Menyembah Allah Secara Benar

Keluaran 20:1-11

1. Sepuluh Hukum: Dasar Kasih dan Penyembahan yang Benar

Sepuluh Hukum adalah pernyataan kasih Allah yang mengajarkan kita untuk mengasihi Dia dan sesama dengan benar. Pentingnya hukum ini:

  • Bukan untuk memperoleh keselamatan: Hukum ini diberikan setelah Allah menyelamatkan umat Israel dari perbudakan Mesir (ayat 1-2).
  • Panduan penyembahan: Mengajarkan bagaimana umat yang telah diselamatkan dapat menyembah Allah dengan benar.

2. Penyembahan yang Berpusat pada Allah

Hukum pertama hingga keempat menunjukkan bagaimana kita harus berhubungan dengan Allah:

Hukum Pertama: Allah adalah Satu-satunya Tuhan

  • Perintah: Jangan ada ilah lain di hadapan Allah (ayat 3).
  • Makna: Penyembahan yang sejati hanya boleh diberikan kepada Allah, bukan kepada makhluk lain atau benda apa pun.

Hukum Kedua: Jangan Membuat Berhala

  • Perintah: Jangan membuat patung atau gambaran untuk disembah (ayat 4-6).
  • Makna: Cara penyembahan kepada Allah harus benar. Contoh pelanggaran ini terlihat dalam penyembahan anak lembu emas, di mana Harun mencoba memuji Allah dengan cara yang salah (Keluaran 32:4).
  • Penerapan: Penyembahan kita harus berdasarkan firman Allah, bukan keinginan atau imajinasi manusia.

Hukum Ketiga: Jangan Menyalahgunakan Nama Allah

  • Perintah: Jangan menyebut nama Allah dengan sembarangan (ayat 7).
  • Makna: Nama Allah tidak boleh digunakan untuk bersumpah palsu, nubuat palsu, atau mantra (Kisah Para Rasul 19:13-16). Sebaliknya, nama-Nya harus dimuliakan dalam perkataan dan perbuatan kita.

Hukum Keempat: Kuduskan Hari Sabat

  • Perintah: Sediakan satu hari untuk Allah (ayat 8-11).
  • Makna: Setelah bekerja selama enam hari, umat Allah dipanggil untuk beristirahat dan beribadah kepada-Nya. Ini juga mencakup memberi istirahat kepada orang-orang yang bekerja di bawah tanggung jawab kita.

3. Prinsip Dasar Penyembahan

Hukum pertama hingga keempat mengarahkan kita pada penyembahan yang:

  • Fokus pada Allah: Tidak mendua hati atau mengarahkan penyembahan kepada yang lain.
  • Dilakukan dengan benar: Menyembah sesuai dengan cara yang ditetapkan Allah, bukan cara yang kita anggap baik.
  • Dilakukan dengan hormat: Memuliakan nama Allah dalam segala aspek hidup kita.
  • Teratur dalam waktu: Memberikan waktu khusus untuk beribadah dan beristirahat, menunjukkan penghormatan kepada perintah Allah.

4. Menghidupi Penyembahan yang Benar

Sebagai umat yang mengasihi Allah:

  • Jadikan Allah sebagai pusat hidup dan penyembahan kita.
  • Taat pada firman-Nya dalam setiap tindakan dan keputusan.
  • Sediakan waktu khusus untuk beribadah kepada-Nya, sekaligus mengingatkan diri akan kasih setia-Nya.

Doa:
Tuhan, ajarlah kami untuk menyembah-Mu dengan benar, memuliakan nama-Mu dalam setiap perkataan dan tindakan kami. Berikan kami hati yang taat dan kasih yang tulus agar hidup kami memancarkan penyembahan sejati kepada-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin

Share:

Berharganya Umat di Mata TUHAN

Keluaran 19

TUHAN memilih bangsa Israel sebagai umat-Nya, menunjukkan betapa berharganya mereka di hadapan-Nya. Allah mengingatkan bagaimana Ia membebaskan mereka dari Mesir dan berjanji menjadikan mereka "milik kesayangan," "kerajaan imam," dan "bangsa yang kudus" jika mereka setia kepada-Nya (ayat 4-6).

Sebagai umat pilihan, mereka dipanggil untuk mendamaikan manusia dengan Allah dan membawa bangsa-bangsa lain mengenal TUHAN. Jika menaati hukum-Nya, mereka akan menjadi berkat bagi dunia.

Dalam Perjanjian Baru, Petrus menegaskan bahwa janji ini juga berlaku bagi kita. Sebagai umat yang ditebus dari dosa, kita dipanggil untuk hidup kudus dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Mari syukuri kasih TUHAN dan hiduplah sesuai panggilan-Nya.

Share:

Pentingnya Delegasi dalam Kepemimpinan

Keluaran 18:13-27

1. Tantangan dalam Kepemimpinan Tanpa Delegasi

Musa, sebagai pemimpin bangsa Israel, menghadapi beban yang berat dengan mengadili perkara umat sendirian. Akibatnya:

  • Tidak efisien: Musa menghabiskan waktu seharian, sehingga tenaga dan pikirannya terkuras (ayat 13, 18).
  • Membuat umat lelah: Umat harus menunggu lama untuk perkara mereka diselesaikan.
  • Risiko burnout: Beban yang terlalu besar tanpa bantuan dapat mengakibatkan kelelahan fisik dan mental.

2. Nasihat Bijak dari Yitro

Yitro melihat situasi ini sebagai sesuatu yang tidak sehat. Ia memberikan solusi yang sederhana tetapi efektif:

  • Mendelegasikan tanggung jawab: Musa harus berbagi tugas dengan orang lain.
  • Kriteria pemimpin yang dipilih: Orang-orang yang takut akan Allah, jujur, terampil, dan membenci suap (ayat 21).
  • Efek positif: Musa dapat fokus pada perkara besar, sementara perkara kecil diselesaikan oleh orang-orang yang dipercaya (ayat 22-23).

Poin utama: Dengan berbagi tanggung jawab, pekerjaan menjadi lebih ringan dan umat merasa dilayani dengan baik.

3. Mengatasi Kesulitan dalam Mendelegasikan

Mendelegasikan tugas sering kali sulit bagi pemimpin, karena:

  • Rasa takut: Pemimpin khawatir tugas tidak dilakukan sesuai standar mereka.
  • Kurang percaya: Pemimpin merasa hanya mereka yang bisa menyelesaikan pekerjaan dengan benar.

Namun, seperti yang dilakukan Musa, kunci keberhasilan delegasi adalah memilih orang yang berkarakter baik dan kompeten. Dalam konteks gereja, Paulus memberikan standar serupa untuk memilih pemimpin jemaat (1 Timotius 3:2-7), yaitu orang yang memiliki integritas, iman, dan keterampilan.


4. Kepemimpinan dalam Gereja: Kerja Sama dan Kesatuan

Pekerjaan Allah terlalu besar untuk dilakukan oleh satu orang saja. Dalam gereja, kepemimpinan bersifat kolegial, melibatkan banyak pihak:

  • Pendeta dan Guru Injil: Memimpin dan menyampaikan firman Tuhan.
  • Majelis dan Diaken: Melayani jemaat dalam berbagai aspek praktis.
  • Seluruh jemaat: Berperan dalam pelayanan sesuai dengan karunia masing-masing.

Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja: Semua pemimpin gereja bekerja di bawah arahan dan kedaulatan-Nya, memastikan pelayanan tetap berpusat pada firman Tuhan dan memenuhi kebutuhan jemaat.

5. Doa untuk Kepemimpinan yang Baik

Delegasi yang sehat tidak hanya meringankan beban pemimpin, tetapi juga menciptakan harmoni dan kesatuan dalam komunitas. Mari kita berdoa untuk gereja kita:

  • Agar pemimpin gereja bijaksana dalam membagi tugas.
  • Agar jemaat terus mendukung kepemimpinan yang transparan dan bertanggung jawab.
  • Agar setiap pemimpin takut akan Tuhan dan melayani dengan kasih.

Doa:
Tuhan, kami bersyukur atas para pemimpin yang Engkau berikan di tengah-tengah gereja kami. Berikanlah mereka hikmat untuk mendelegasikan tugas dengan bijaksana. Kiranya melalui kerja sama yang harmonis, pekerjaan-Mu semakin berkembang dan nama-Mu dipermuliakan. Dalam nama Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja, kami berdoa. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.