Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

MATA TUHAN MENGAWASI

Amsal 15:3
Closed Circuit Television (CCTV) adalah pelengkap keamanan yang digunakan oleh hampir setiap kantor, toko, rumah atau tempat-tempat publik maupun privat lainnya. Pada zaman dahulu, di setiap sudut toko ditempatkan seorang karyawan yang akan mengawasi para pembeli agar tidak ada barang yang dicuri. Namun saat ini, di sebuah supermarket besar atau mall, tidak ada banyak karyawan yang berjaga di setiap lorong penjualan barang. Sebab, di setiap sudut ruangan sudah dipasang CCTV yang akan mengawasi dan terhubung kepada sebuah layar computer yang diawasi oleh petugas keamanan. Apabila ada yang berbuat curang, orang tersebut akan ditangkap. Sistem pengawasan melalui CCTV sangat membantu untuk menangkap para pelaku kejahatan. Walau demikian, CCTV bisa dimanipulasi dengan dimatikan atau merusak kamera pengintainya. Jika teknologi masih terus berusaha untuk memampukan mata kita melihat hal-hal yang tadinya tak terlihat, mata Tuhan sudah sejak awal mampu berfungsi seperti itu malah melebihi CCTV.

Salah satu kisah tokoh Alkitab yang mencoba berbuat curang tetapi tertangkap oleh mata Tuhan adalah Gehazi, bujang Elisa. Karena ingin mendapatkan sebagian persembahan Naaman yang ditolak oleh Elisa, Gehazi berbohong. Ia berpikir bahwa Elisa tidak akan mengetahuinya. Ia lupa bahwa Tuhan maha melihat. Akhirnya, Tuhan memberitahu Elisa dan Gehazi ditegur dan dihukum atas perbuatannya. Sesungguhnya, tidak ada satupun yang luput dari pantauan Tuhan, setiap kita selalu ada dalam pantauan-Nya. Ia melihat setiap perbuatan kita sekalipun tidak ada orang yang dapat melihatnya. Setiap kebaikan dan kejahatan yang dilakukan, terekam jelas oleh mata Tuhan sekalipun kita berusaha untuk menutupinya dengan rapi. Bahkan ketajaman mata Tuhan mampu melihat hingga ke dalam hati dan pikiran manusia yang tidak terdeteksi oleh CCTV.  Karena itu, apa pun yang Anda lakukan, rencana yang ada di pikiran atau perasaan dalam hati Anda, ingatlah bahwa Tuhan sedang memandang dan akan terus memantau dari sorga. Mari kita sama-sama belajar menjaga sikap, perbuatan, pikiran, perasaan, tingkah laku dan perkataan dalam takut akan Tuhan agar hidup kita selaras dengan firman-Nya. Amin. 

REFLEKSI DIRI
1. Bagaimana tindakan Anda ketika diperhadapkan pada godaan melanggar firman-Nya di saat tidak ada orang yang melihat?
2. Apa yang harus Anda lakukan menyadari bahwa Tuhan senantiasa memperhatikan langkah kehidupan?
POKOK DOA
Bapa di Sorga, tolonglah aku agar senantiasa bertindak dengan hati-hati agar Engkau tidak mendapati aku sedang melakukan perbuatan yang melanggar firman-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
YANG HARUS DILAKUKAN
Bertindaklah dengan benar di mana saja Anda berada sebab mata Tuhan senantiasa mengawasi.
HIKMAT HARI INI
Mata Tuhan mengawasi setiap tempat, tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya.
Share:

HARAPAN ORANG BENAR

Amsal 10:28 (TB) "Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia"
 
Harapan itu sesuatu yang dinantikan. Harapan itu biasanya membawa sukacita jika harapan itu menjai kenyataan. Harapan yang tidak menjadi kenyataan akan menjadi kekecewaan. Harapan itu perlu diperjuangkan agar menjadi kenyataan. Harapan orang benar akan membawa sukacita, tetapi harapan orang fasik akan menjadi sia-sia. Seperti apa pengharapan yang benar itu? Seperti apa pengharapan yang akan membuahkan sukacita? 

Pertama, pengharapan harus memiliki dasar. Mengapa petani mengharapkan panen? Karena petani tersebut telah menanam benih dan percaya bahwa dari benih itu bisa dihasilkan banyak hasil panen. Demikian juga setiap pengharapan kita harus mempunyai dasar, sehingga pengharapan kita bukan berdasarkan untung-untungan.

Kedua, pengharapan harus disertai dengan tindakan nyata. Petani mengharapkan panen. Itu sebabnya ia mengolah tanah dan membuatnya menjadi gembur, mengairinya dengan baik, diberi pupuk, dijaga dari hama, dsb. Petani tersebut harus lebih dulu bekerja keras sebelum harapannya menjadi kenyataan. Kita pun demikian, jika tanpa mau bekerja maka semua harapan kita hanya sekedar lamunan dan angan-angan belaka. 

Ketiga, pengharapan harus realistis. Memang Tuhan bisa melakukan banyak cara yang penuh keajaiban, namun hal tersebut hanya bersifat insidentil. Itu sebabnya seorang petani tak mungkin mengharapkan minggu depan sudah bisa panen sementara benihnya baru ditabur hari ini. Atau mengharapkan hasil 1 ton sementara yang ditabur hanya beberapa benih saja. Tanpa kewajaran, pengharapan hanya akan berujung pada kekecewaan. Salomo mengingatkan bahwa kita harus memiliki pengharapan dan mau menanti hasilnya dengan penuh kesabaran dan ketekunan, sebab jika tidak, kita tidak akan pernah melakukan satu pekerjaan dengan baik. Karena itu, teruslah berjuang agar pengharapan yang benar akan berbuah sukacita. Amin
Share:

Menjadi Orang Percaya Yang Kokoh Dalam Tuhan

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” Yeremia 17:7-8

Ada banyak orang membaca Yeremia 17:7-8, mereka langsung melompat pada ayat 8, dimana mereka langsung membahas akibatnya, dan bukan mencari sebabnya. Kenapa saya katakan begitu, karena mereka langsung menggambarkan atau beralegoris bahwa orang percaya harus menjadi pohon yang kokoh yang mampu bertahan pada musim kemarau dan merambatkan akar-akar ke ujung-ujung batang air serta menghasilkan buah pada musimnya. Benarkan demikian?
Bagi saya hal tersebut tidak salah, hanya kurang pas saja. Saya memberikan contoh sebuah kalimat “saya makan, maka saya kenyang”. Kenapa saya kenyang? Karena saya makan. Dari kalimat ini, kita bisa melihat ada kata sebab dan ada kata akibat. Sebabnya ada pada kata “makan” sedangkan akibatnya ada pada kata “kenyang”. Mungkin anda akan bertanya, apa hubungannya dengan ayat diatas?
Yeremia 17:7-8 juga berbicara tentang sebab – akibat. Ayat 8 berbicara akibat, sedangkan ayat 7 adalah sebabnya. Jadi untuk dapat menjadi orang percaya yang kokoh bagaikan pohon setidaknya orang tersebut memiliki dua hal yang terdapat pada ayat 7 yang merupakan sebabnya.
Berikut ini kedua hal yang menyebabkan kita dapat menjadi orang percaya yang kokoh di dalam Tuhan:

1. Mengandalkan Tuhan
Kata “mengandalkan” mempunyai kata dasar: andal, yang berarti dapat dipercaya. Jadi semacam tempat untuk bergantung apapun bentuknya. Orang tersebut tidak bisa apa-apa tanpa hal itu. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang percaya harus mengandalkan Tuhan. Tanpa Tuhan atau di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa.

2. Menaruh Pengharapan Kepada Tuhan
Kata “menaruh” mempunyai pengertian: melepas atau memberi pada sesuatu yang kita percayai. Dengan kata lain, kalau kita taruh sesuatu di suatu tempat, maka kita percaya barang tersebut tidak akan hilang.

Jadi orang percaya setidaknya sangat percaya atau amat percaya akan sesuatu yang akan datang. Pengharapan hampir sama dengan iman, bahwa percaya sekalipun belum melihat sesuatu. Karena bukan pengharapan jika hal itu sudah didapat atau sudah dilihat.
Kalau orang percaya sudah memiliki dua hal tersebut di atas, yaitu mengandalkan Tuhan dan menaruh pengharapan kepada Tuhan, barulah dapat menerima akibatnya yaitu berkat yang Tuhan sediakan bagi umatNya yang setia kepadaNya.

Orang percaya yang seperti ini ibarat pohon yang ditanam ditepi aliran air, yang tidak akan kering karena panas terik, dan tidak akan pernah berhenti menghasilkan buah. Sehingga ia menjadi orang yang kokoh di dalam Tuhan serta menjadi kuat dalam menghadapi tantangan hidup. Amin.
Share:

Perlindungan Tuhan

Mazmur 91:1-16

"sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu." (Mazmur 91:11)

Setiap orang di dunia ini, bahkan termasuk suatu negara sekalipun, membutuhkan perlindungan yang aman. Agar terlindung dari segala jenis penyakit, manusia mengadakan vaksinasi, juga minum obat dan vitamin. Agar terlindung dari pencuri, penjahat atau perampok, orang membuat pagar yang kuat di sekeliling rumahnya, atau mempekerjakan satpam. Agar terlindung dari serangan musuh, setiap negara membangun angkatan bersenjata. Contoh: Indonesia dengan TNI-nya. Agar terlindung dari kerugian besar yang tak terduga, orang melengkapi diri dengan asuransi. Intinya, di setiap aspek kehidupan, manusia sangat memerlukan perlindungan.
Apakah semua perlindungan yang dibuat manusia ini sudah dapat menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan mereka secara utuh? Semua ada batasnya dan tidak ada yang sempurna. Pertanyaan: ke manakah kita harus mencari perlindungan yang aman dan sempurna? Mau tidak mau manusia harus kembali kepada Tuhan. Tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan jaminan perlindungan Tuhan. Pemazmur menegaskan: "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: 'Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.'"(ayat 1-2). Hanya orang-orang yang "…hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.” (ayat 14).
Melekat kepada Tuhan berarti memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan. Mengenal nama Tuhan berarti mengenal kebenaran Tuhan dan hidup dalam kebenaran-Nya. Sudahkah kita memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan? Orang yang mengenal Tuhan dengan benar akan mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. "Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN." (Mazmur 9:11). Di zaman yang serba modern ini tidak gampang orang mau mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. 
Dalam perlindungan Tuhan hidup kita akan terjaga dan terpelihara dengan aman! Amin.
Share:

PENGHARAPAN TIDAK MENGECEWAKAN

Roma 5:5 (TB) "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" 

Romans 5:5 (NET) "And hope does not disappoint, because the love of God has been poured out in our hearts through the Holy Spirit who was given to us" 

Pengharapan artinya: memohon, meminta, keinginan supaya sesuatu terjadi dan sesuatu itu biasanya hal yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan. Sedangkan pengharapan dalam Alkitabiah adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, dimana Yesus telah masuk sebagai perintis bagi kita, ketika Ia menurut pengertian Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya (Ibr. 6:19-20).
Pengharapan tentunya sangat dibutuhkan ketika seseorang tergeletak tak berdaya karena rumah tanggamu hancur berantakan, bisnis dan pekerjaanmu jatuh ketitik nol, kesehatanmu ambruk, masa depan sepertinya kelihatan suram, sehingga kita tidak sanggup berdiri lagi?
Menghadapi situasi seperti ini, kita harus bisa menerima kekecewaan yang terbatas, tetapi jangan pernah kehilangan harapan yang tidak terbatas. Artinya bahwa kekecewaan itu seberapa hebatnya, terbatas, tetapi harapan itu, tidak terbatas. Oleh sebab itu biarkan harapan itu berbisik dalam pikiran dan hati kita!!! Jangan bungkam bisikan itu karena masalah yg anda hadapi terlalu berat dan banyak. Dengarkan suara itu dan biarkan suara itu menghidupkan harapan kita yang hampir padam. 

Harapan adalah kata yg luar biasa. Tuliskan dalam pikiran kita selamanya. Harapan adalah kata yg memberikan pencerahan, bersinar dan gemerlap, membuat kita bisa melihat kedepan, menjadikan kita berani dan memiliki kepercayaan diri lagi dalam Tuhan.

Harapan membuat kita memiliki hari esok. Untuk bisa bertahan hidup, kita harus memiliki harapan. Harapan membuat kita mampu keluar dari situasi dan kondisi yg mengurung hidup kita.

Pengharapan di dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan karena kasih karunia Allah telah dicurahkan bagi kita oleh Kristus Yesus, untuk itu dalam segala problema hidup, tetaplah menaruh pengharapanmu kepada Tuhan Yesus. Karena Ia sanggup.

Pengharapan memberikan daya tahan. Saat menapaki jalan panjang nan gelap pun diyakini bahwa di depan sana sebuah cahaya terang akan muncul. Oleh karena itu keterbatasan bukan sebuah alasan untuk menyerah, alih-alih menjadi pemicu untuk berbuat yang terbaik bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.
Berdasarkan Kitab Suci kita harus memaknai bahwa pengharapan itu bukan produk awal. Dia lahir dari berbagai tekanan dan persoalan hidup. Jika kita tekun menanggungnya maka kita akan tahan uji. Jika kita sudah tahan uji maka pengharapan itu lahir. Dan pengharapan tidak pernah mengecewakan.  Oleh karena itu pengharapan itu sendiri adalah buah dari ketekunan dan kemudian menjadi tahan uji. Karena itu, teruslah berharap maka kita akan meraih harapan itu dalam kebahagiaan. Amin
Share:

Saling Menopang sebagai Saudara

Galatia 6:1-10

Pendahuluan
Pandemi covid-19 telah mengubah dunia dan hidup kita hari ini. Dari aspek sosial budaya muncul pola hidup yang baru: sosial dan physical distancing, ke mana-mana orang sekarang mengenakan masker. Sentuhan dan jabat tangan tidak lagi dilakukan. Kepedulian terhadap kebersihan dan kesehatan meningkat. Juga muncul pola bekerja dan melakukan berbagai aktivitas dari rumah (livework-play from home). Meeting dan ibadah dilakukan secara online. Dari aspek ekonomi dan bisnis, banyak usaha yang terpukul, bahkan tutup sehingga terjadi lonjakan PHK dan angka pengangguran. Banyak orang mengalami tekanan secara mental dan kejiwaan. Beberapa berita melaporkan terjadi peningkatan angka konflik dan kekerasan dalam rumah tangga dalam masa-masa pandemik ini. Di sisi lain, juga muncul solidaritas di mana-mana dari masyarakat untuk saling membantu. Berbagai aksi dan gerakan kepedulian dilakukan untuk meringankan beban pemerintah dan membantu para petugas medis maupun masyarakat kecil yang langsung terdampak oleh situasi saat ini. Ada kesadaran bahwa kita tidak bisa sendiri melainkan harus bersama-sama saling membantu untuk bisa mengatasi tantangan saat ini. Ini juga yang menjadi nasehat Firman Tuhan bagi kita sebagai persekutuan orang-orang percaya.
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”
Kata “beban” yang digunakan di sini merujuk pada suatu beban yang berat untuk dipikul, bukan beban yang ringan atau biasa. Nasehat rasul Paulus di ayat ini masih berhubungan dengan pasal 5:13-14 yaitu supaya jemaat saling melayani seorang akan yang lain oleh kasih sesuai dengan perintah utama dari hukum Taurat,” kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”. Perintah tersebut dapat dilakukan, bukan karena mereka sanggup, tetapi karena Kristus telah menebus dan memerdekakan mereka dari kutuk dan kuk perhambaan hukum Taurat (3:13; 5:1). Melalui iman, mereka menerima Roh Kudus yang memampukan mereka untuk hidup menurut Roh, bukan lagi menuruti keinginan daging. Salah satu bentuk hidup menurut Roh adalah hidup saling bertolongtolongan, hidup yang tidak bersifat egosentris, tetapi hidup yang seperti hidup Kristus yang selalu berorientasi mengasihi dan melayani orang lain. Itulah yang Paulus maksudkan dengan “memenuhi hukum Kristus”.
Kristus menjadi panutan dan contoh tertinggi bagi hidup mengasihi dan melayani, menjadi model bagaimana hidup orang percaya seharusnya (Yohanes 13:34). Kristus telah menanggung beban kita, beban yang tidak satu pun kita sanggup untuk memikulnya yaitu dosa serta akibatnya melalui penderitaan dan kematian-Nya. Karena itu kita dipanggil untuk bertolong-tolongan menanggung beban. Tidak disebutkan secara spesifik beban apa yang dimaksud. Beban tersebut bisa berupa kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan seorang jemaat, yang mana perlu ditanggung bersama dengan cara memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut (Pasal 6:1). Bisa juga bersifat lebih luas (pasal 6:9-10), yaitu berbagai beban yang dirasakan dan dialami dalam kehidupan pada umumnya.
Hidup Bertanggung Jawab
Ayat 3 hingga 5 Paulus menasihati lebih lanjut agar jangan ada orang yang merasa dirinya sangat penting dan berarti sehingga tidak peduli dengan keadaan saudara seiman yang perlu ditolong. Atau merasa diri lebih benar dan lebih baik dengan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain, sehingga jatuh pada sikap sombong dan menghakimi. Sebaliknya, Paulus mengingatkan jemaat di Galatia agar memiliki perspektif diri yang benar. Yaitu hendaklah setiap orang melihat dirinya tidak lebih penting dari orang lain. Setiap orang dalam jemaat saling membutuhkan satu dengan yang lain. Namun tiap-tiap orang harus menyadari bahwa ia juga mempunyai tanggung jawab terhadap hidupnya sendiri. “Tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri” (ay.5) berarti masing-masing harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas berkat, kesempatan, juga tantangan dan kesulitan yang Tuhan berikan untuk dipikul. Ka
Share:

TANGAN YANG RAJIN

Amsal 10:1-6

Amsal 10:4, Tangan orang yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.

Tuhan memang berjanji akan memberkati hidup orang percaya dengan berlimpah-limpah. Namun janji Tuhan tersebut tidak akan bisa terjadi bila kita hanya berpangku tangan dan tidak berusaha apa-apa. Berkat Tuhan perlu disambut dengan tangan yang giat dan rajin bekerja. Zig Ziglar, dalam bukunya ”Leadership; Breaking to The Next Level,” pernah menuliskan seperti ini: “Kurang dari 1% dari seluruh jutawan di Amerika yang merupakan atlet atau penghibur profesional. Mayoritas dari mereka yang menjadi kaya raya ini meraih kekayaannya dengan cara kuno. Mereka mendapat pendidikan, memulai dari anak tangga paling bawah, dan perlahan-lahan melewati jangka waktu tertentu, berhasil mencapai puncaknya. Cara terbaik untuk memperoleh kekayaan adalah dengan cara yang kuno, Anda harus mengusahakannya dengan giat.”

Ribuan tahun yang lalu Raja Salomo yang kaya raya dan penuh hikmat telah mengetahui dan mempraktikkan hal yang sama. Hal itu kita ketahui dalam kata bijaknya: “Tangan orang yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya” (Amsal 10:4).


 
Beberapa orang salah di dalam memahami arti ” hidup dengan iman.” Mereka berpikir bahwa mereka tidak perlu lagi bekerja dan cukup berdoa saja maka Tuhan akan menurunkan berkat-Nya. Sebagai orang percaya, tentu kita perlu dan harus berdoa memohon berkat dan anugerah-Nya agar turun dalam hidup kita, namun kita juga harus bekerja dengan segiat-giatnya. Dengan demikian, berkat Tuhan yang dijanjikan itu bisa kita raih. *Apapun bidang pekerjaan Anda hari ini, lakukanlah itu dengan segenap hati, segenap tenaga dan segenap pikiran. Percayalah, kombinasi penyertaan Tuhan dan tangan yang rajin akan selalu membuahkan hasil yang berlimpah.

*REFLEKSI DIRI*

1. Apakah Anda rindu Tuhan memberkati kehidupan Anda dengan materi yang berlimpah? Hal apa yang perlu Anda lakukan?

2. Langkah apa saja yang ingin Anda lakukan untuk menyambut janji berkat Tuhan dalam kehidupan Anda?

*POKOK DOA*

Bapa di sorga, ajar aku untuk mejadi pribadi yang rajin bekerja dengan segenap kekuatan, pikiran dan hati. Roh Kudus, ingatkanlah aku selalu untuk mengandalkan Tuhan dalam hidupku. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
*YANG HARUS DILAKUKAN*
*Bekerjalah dengan memberikan hasil terbaik dan tetaplah mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan.*

*HIKMAT HARI INI*
*Tangan yang rajin + penyertaan Tuhan = Berkat dan kelimpahan*

============================

_*Setiap Firman Tuhan yang kita aminkan, maka Firman Tuhan itu hidup dalam kehidupan kita secara nyata.*_
Share:

BAHWASANYA UNTUK SELAMA-LAMANYA KASIH SETIA-NYA

Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya
 Mazmur 136:1-3

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.Saudaraku, kapan atau dalam situasi seperti apa, kita mengatakan “ bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia Baik! Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Saya yakin sebagian besar dari kita akan mengatakan ketika semuanya ada dalam keadaan yang baik, usaha lancar, gaji naik, anak-anak mendapat nilai yang baik dan diterima di sekolah favorit, seluruh anggota keluarga dalam keadaan sehat, keluarga harmonis dan lain sebagainya.Bagaimana jika kita ada dalam keadaan yang tidak baik, sedang sakit, kehilangan orang yang dikasihi,” di rumahkan” karena wabah covid-19 sehingga penghasilan kita berkurang, usaha kita bangkrut, keluarga kita berantakan dan lain sebagainya, Apakah kita bisa bersyukur dan mengatakan Tuhan baik? Jawaban yang seringkali saya dengar dan juga menjadi pengalaman saya juga adalah “HARUSNYA BISA TAPI……..TERNYATA SULIT, TIDAK MUDAH UNTUK MENGUCAP SYUKUR DAN MENGATAKAN TUHAN BAIK DI TENGAH KESULITAN.”Saudaraku, saya ingin mengajak kita untuk melihat Mazmur 136:1-26. Di sana yang pemazmur bersyukur kepada Tuhan dan mengatakan Tuhan baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya, karena 1. Ayat 4-9 Dia yang menciptakan langit dan bumi dan segala isinya dengan sungguh amat baik 2. Ayat 10-22 Tuhan tidak tinggal diam ketika umat-Nya ada dalam penderitaan sebagai budak di Mesir. Tuhan telah Juruselamat bagi umatNya Israel dengan membawa mereka keluar dari Mesir dan membawa mereka ke tanah perjanjian. 3. Ayat 23-24 Tuhan penolong di saat kita ada dalam kesulitan 4. Ayat 25-26 Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjuang sendiri, Dia menyediakan yang kita butuhkan. Saudaraku jika kita melihat Mazmur 136:1-26 maka kita dapat menarik kesimpulan: ungkapan syukur atas kebaikan dan kasih setia Tuhan adalah sebuah ungkapan iman yang tak hanya muncul disaat semua baik-baik saja. Tapi juga hadir di saat ada kesulitan, tantangan dan pencobaan, karena Allah yang dipercayai adalah Allah yang bertindak sebagai Juruselamat dan penolong umatNya. Iman berperan menolong kita untuk melihat karya Tuhan dalam kesulitan dan tantangan yang sedang kita hadapi. Iman juga berperan memberikan pengharapan untuk menghadapi kenyataan dan untuk mengatasi kenyataan hidup. Tanpa Iman, maka kita akan mudah berputus asa dan tak berdaya menghadapi kesulitan dan tantangan hidup.Karena itu, saudara, , mari gunakan iman kita di tengah kesulitan dan tantangan yang sedang kita hadapi sehingga setiap kita berkata bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya! Amin
Share:

TANGGUNG JAWAB DALAM PERSEKUTUAN

Roma 15:1-6.

Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. (Roma 15:1-2) Nats Alkitab: Roma 15:1-6
                Apakah tanggung jawab orang-orang Kristen dalam persekutuannya dengan saudara-saudara seiman? Mau mengambil tanggung jawab dalam persekutuan merupakan wujud nyata rasa syukur kita atas kasih karunia Allah dan persembahan hidup kita untuk dipakai Allah menyalurkan kasih karunia tersebut kepada orang lain.
                Pertama, dalam persekutuan Kristen setiap anggota bertanggung jawab untuk saling memperhatikan. (ayat 1-3).  Kalau ini terjadi maka setiap anggota akan mengalami pertumbuhan pribadi, hubungan akan menjadi sehat dan akibatnya persektuan akan menjadi berbuah. Percayalah, kasih memiliki kuasa besar untuk memenangkan hati orang daripada pengabaian atau kritikan tajam.
                Kedua, dalam persekutuan Kristen setiap anggota bertanggung jawab untuk menyelidiki Alkitab secara pribadi maupun bersama-sama. (ayat 4).  Alkitab memberikan janji-janji kehidupan yang memberikan kita dorongan semangat untuk lebih berani hidup dalam kebenaran Allah.
                Ketiga, dalam persekutuan Kristen setiap anggota berpegang teguh dalam pengharapan. (ayat 4). Kata berpegang teguh (tabah) berasal dari kata hupomone yang artinya sikap menanggulangi hidup dengan keberanian atau suatu kekuatan yang tidak hanya menerima, tetapi mampu mengubah sesuatu yang diterima itu menjadi kemuliaan. Sedangkan pengharapan yang kita miliki bukan berdasarkan kekuatan manusia tetapi pada kasih karunia Allah yang memberikan jalan keluar, kekuatan, hikmat dan keberanian sehingga kita akan menjadi berani dan tidak putus asa apapun keadaannya.
                Keempat, dalam persekutuan Kristen setiap anggota bertanggung jawab untuk membangun keserasian (harmoni) satu sama lain (ayat 5-6). Gedung gereja yang megah, peralatan musik/sound sistem yang canggih atau berbagai kegiatan gereja yang gemerlap tidak akan menjadikan sebuah gereja memiliki persekutuan sejati di dalam Kristus. Tanpa adanya harmoni, maka persekutuan Kristen menjadi semu dan kehilangan otoritas Kerajaan Allah. Kasih karunia telah mempersatukan kita lebih dari perbedaan-perbedaan kita, bahkan Tuhan telah menjadikan perbedaan-perbedaan tersebut menjadi kekuatan dan keindahan. Tanggung jawab kita adalah menyelaraskan diri dengan saudara-saudara yang lain serta mengikuti aba-aba dari Sang Konduktor Agung (Yesus Kristus). Amin. 

Mau mengambil tanggung jawab dalam persekutuan merupakan wujud nyata rasa syukur kita atas kasih karunia Allah
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.